Seiring dengan makin dekatnya pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta, lembaga survei di Indonesia pun berlomba untuk mengeluarkan hasil jajak pendapatnya ke khalayak.

Seiring dengan makin dekatnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, lembaga survei di Indonesia pun berlomba untuk mengeluarkan hasil risetnya ke khalayak. Namun siapa di sini yang paling benar?

Beberapa di antaranya memenangkan pasangan nomor urut dua, sedangkan yang lain justru sebaliknya. Misalnya saja Lingkaran Survei Indonesia, Indomatrik, dan Media Survei Indonesian. Mereka mengungkapkan bahwa pasangan Anies-Sandi unggul di atas Ahok-Djarot.

Lain halnya dengan Charta Politika Indonesia yang menunjukkan keunggulan pasangan Ahok-Djarot. Litbang Kompas pun serupa, menurut jajak pendapat yang mereka lakukan, Ahok-Djarot dinilai bisa menguasi masalah lebih unggul dibanding Anies-Sandi.

Tak hanya lembaga survei di luar, internal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pun tak ingin kalah mengadakan berbagai riset demi mengetahui lebih dulu siapa yang menang di Pilkada nanti. Tim Ahok-Djarot menemukan bahwa pasangan mereka bisa menyalip keunggulan Anies-Sandi ketika pemilihan nanti.

"...Survei bisa diakui kredibel ketika mereka benar-benar melakukan wawancara, tidak mengubah data lapangan, menggunakan metodologi ilmiah, menyertakan sumber dana, jumlah responden, serta tempat dan tanggal pemilihan."

Beberapa hasil survei ini mungkin bisa memberikan gambaran kepada warga DKI terkait pemimpinnya di masa mendatang. Barangkali hasil yang didapat bisa memenangkan pemimpin harapan mereka. Namun demikian, jajak pendapat ini hanyalah sebatas gambaran. Tentu hasil setelah pemilihan lah yang jadi penentu finalnya.

Lembaga survei juga tidak bisa dibelepoti dengan urusan politis. Jika hasil jajak pendapat ini mengandung afiliasi yang tak berimbang, tentu warga secara langsung telah dibohongi. Tiap lembaga survei harus memiliki integritas, ketidakberpihakan, kapabilitas dan kredibilitas yang tinggi.

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) lebih dulu mengungkapkan bahwa survei bisa diakui kredibel ketika mereka benar-benar melakukan wawancara, tidak mengubah data lapangan, menggunakan metodologi ilmiah, menyertakan sumber dana, jumlah responden, serta tempat dan tanggal pemilihan.

Namun siapapun yang turut serta beradu jajak pendapat, publik akan semakin pintar menilai. jadi menurut Anda siapa yang paling benar?

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook