Pamor Jokowi semakin terlihat, lawan politiknya tidak mampu mentaksir langkah politik dan kebijakan pemerintah. Eh, ternyata presiden yang mantan Walikota Solo ini memegang keris Dhapur Pasopati, amanah pemberian Paguyuban Tosan Aji. Jenis keris ini diduga dibuat di era Mataram Kuno di awal abad 9 masehi.

Presiden Jokowi disela-sela kesibukannya kemarin 9/8/2017 meresmikan Museum Keris Nusantara di Surakarta.  Mengapa harus di Surakarta dan bukan di museum keris milik TMII? Hehe, mungkin inilah cara Presiden Jokowi mengembalikan pakem ke tempatnya. Kesakralan keris tenar sejak zaman Kerajaan Medangkamulan atau Mataram Kuno. Kemudian berlanjut di era Majapahit, Demak, dan Pajang. Kerajaan Pajang inilah yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Surakarta Hadiningrat. Sejak Jokowi menjadi Walikota Surakarta, dirinya telah memegang keris bermodel Dhapur Pasopati. Sebuah blog duniapusaka.com menceritakan asal-usul keris milik Joko Widodo tersebut merupakan pemberian dari Paguyuban Tosan Aji Boworoso Bali Sujadmiko Surakarta, yang dibuat oleh Mpu Pauzan.

Apa makna pemberian keris oleh komunitas Mpu Tosan Aji tersebut? Ternyata keris Dhapur Pasopati, adalah keris yang tak mempunyai luk (lekukan). Keris ini bentuknya lurus terbuat terbuat dari baja dan bahan pamor memiliki sugesti agar pesan-pesan moral dari Dhapur Pasopati, agar Jokowi mampu melaksanakan kepemimpinan secara lurus. Keris ini merupakan keris paling tua, jauh sebelum adanya keris luk yang tenar di era Majapahit. Karena tanpa uk, pamor yang dibawanya senantiasa mengajak ke arah lurus, tanpa tedeng aling-aling. Hehehe, itulah falsafah keris yang penulis uraikan tanpa kaidah. Walhasil, saat ini Jokowi mampu memerankan amanat dari Paguyuban Tosan Aji dengan Nawa Cita, Paket Kebijakan Ekonomi dan Proyek Strategis Nasional. 

Museum Keris Nusantara yang beralamat di kawasan budaya Sriwedari di Jalan Bhayangkara Surakarta ini telah mengkoleksi 409 keris. Jika Presiden Jokowi jadi menitipkan pusakanya, apakah itu Dhapur Pasopati atau yang model yang lain, jumlahnya genap menjadi 410. Penulis harap bukan Pasopati yang dititipkan, hehehe. Mungkin setelah tidak jadi Presiden sih boleh-boleh saja.

Jika presiden Jokowi menyebut Erdogan dan Putin memiliki keris dari Indonesia, penulis melihatnya wajar-wajar saja. Karena dasar negara Turki sebelumnya masih kekhilafahan, dan negara Rusia juga pernah mengalami masa kekaisaran pada abad 16-17 masehi. Jadi Indonesia, Turki dan Rusia secara kultur memiliki karakteristik kerajaan yang sama, meski berbeda tempat. Pertanyaannya, kenapa harus keris yang mereka koleksi? Penulis sendiri yang terlahir di Jawa saja belum punya keris. Dalam dugaan penulis, keris akan membawa pamor pada masing-masing pemegangnya, dan itu yang dibutuhkan oleh Erdogan saat dikudeta oleh militernya. Ataupun seorang Putin dengan wilayah negara yang mencapai 17 juta km2, yang luasnya delapan kali dari wilayah Indonesia (1,9 km2), barangkali semakin memantapkan kediriannya dalam memimpin negaranya yang begitu besar.  

Fenomena keris, mungkin satu dari bagian warisan budaya yang masih terpelihara. Terlepas dari klenik atau penuhanan benda yang acapkali disebut sebagai upaya musryik oleh kalangan penganut bumi datar, keris hanya sebuah hiasan pusaka. Karena pembuatannya dari bahan terpilih, dan seorang Mpu pun harus berpuasa saat membuat. Hal itu yang menyebabkan keris menjadi barang yang bertuah. Dan penulis kira, Jokowi sebagai role model pemimpin dunia, tidak perlu gegabah menitipkan kerisnya ke museum, karena sebenarnya keris Pasopati miliknya adalah sebuah amanah rakyat. Karena kepribadian pemegang keris dan keris akan mirip tipis, seperti tujuan saat pembuatan dan penamaan keris itu sendiri. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook