Tahun 2017, Kementerian BUMN membangun 100 Balkondes di 20 destinasi wisata terkenal di Indonesia. Setiap pengurus desa akan menerima Rp1 miliar untuk pengembangan potensi wisata dan ekonomi yang berbasis seni kerajinan. Di Borobudur telah berjalan program ini. Menunggu destinasi lainnya seperti Labuan Bajo, Danau Toba dan Morotai.

Pemerintah minggu lalu, meluncurkan kredit ultra mikro dengan plafon Rp2-10 juta. Program tersebut untuk memperluas akses permodalan kepada masyarakat yang tidak tersentuh oleh perbankan. Kebijakan dari menteri Keuangan ini cukup menggembirakan bagi pelaku sektor UKM. Selama ini UKM tumbuh menjadi backbound perkonomian nasional. Action yang sama juga dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, dengan meluncurkan Balai Ekonomi Desa (Balkondes). 

Balkondes sebuah fasilitas yang menunjang berbagai aktifitas, yang menyentuh langsung ekonomi masyarakat sekitar. Platform lebih ke Interconnecting Tourism System berbasis komunitas, untuk kemajuan ekonomi desa, pemberdayaan dan pengembangan SDM berbasis wisata. Sebagai tahap awal, Rini mengunjungi Balkondes di kawasan wisata Candi Borobudur. Rini mentargetkan ada 18 Balkondes yang akan digarap menjelang akhir 2017.

Meski digagas oleh Kementerian BUMN, tidak menggunakan dana dari pemerintah sama sekali. Program Balkondes diambil dari dana CSR masing-masing perusahaan. Dalam pelaksanaan rencana pembangunan 18 Balkondes, melibatkan perusahaan 18 plat merah di bebeberpa desa di sekitar Candi Borobudur. Telkom Indonesia membangun Balkondes di  Desa Tuksongo, BTN mengembangkan di desa Karanganyar, BNI di Desa Wanurejo, Hutama karya di Desa Kebon Sari, BRI di Desa Wringin Putih dan Semen Indonesia di Desa Candirego. Nah, setiap Balkondes akan dilengkapi dengan 10 unit fasilitas penginapan (homestay).

Kerjasama ke 18 BUMN tersebut disinergikan dengan BUMN Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko (Persero), Hotel Indonesia Natour Persero, dan Patrajasa sebagai anak perusahaan Pertamina. Dana CSR dari perusahaan plat merah tersebut akan dikelola bersama desa atau kelurahan setempat. Seperti Balkondes di desa Karanganyar, wisatawan bisa langsung seni membuat gerabah, ukiran dan anyaman bambu. Di desa Karanganyar ini, wisatawan juga bisa melihat pemandangan istimewa Matahari terbit dari bukit Menoreh dan jalur sepeda khusus untuk menikmati indahnya pemandangan Candi Borobudur. 

Jika Balkondes bisa menjadi pilot project bagi daerah lain, dengan potensi wisata yang tidak kalah menariknya. Ada banyak wilayah dengan pariwisata yang cukup baik, terlebih setiap desa menerima dana desa sekitar Rp800 jutaan yang dikelola BUMDes. Pola Balkondes bisa diterapkan kementerian lain untuk membangun sebuah wilayah pariwisata dengan fasilitas yang minim. Akhirnya, daya pikat Candi Borobudur akan semakin menarik untuk mendukung sektor pariwisata.  Ayo, majukan daerahmu dengan karya-karya anak bangsa yang mampu menarik perhatian wisatawan. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook