Sebanyak 22 titik daerah telah menikmati BBM Satu harga, dari 54 titik harus diselesaikan oleh ESDM dan Pertamina pada tahun 2017 ini. Keseriusan Presiden Jokowi untuk BBM Satu Harga ini terus dikejar, didukung anggaran yang memadai.

Pemerataan ekonomi yang keadilan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat salah satu prioritas dalam pemerintahan Jokowi-JK. Salah satu program yang dimaksud adalah BBM Satu Harga. Tercatat sejak pertengahan bulan Agustus 2017, sudah 22 titik diseluruh Indonesia yang menerima BBM Satu Harga. Jenis BBM yang menjadi fokus satu harga RON 88 (premium) dan Solar 48, dengan harga yang ditetapkan untuk premium Rp6450 per liter dan solar Rp5150 per liter. 

Dimana pencapaian ke-22 BBM Satu Harga titik tersebut? Ditjen Migas dan pihak Pertamina  telah menyasar beberapa daerah dengan kategori terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Di Provinsi Papua mencapai 8 titik, meliputi Kabupaten Puncak, Duga, Yalimo, Mamberamo Raya, Mamberamo Tengah, Tolikara, Intan Jaya dan Paniai. Sementara Provinsi Papua Barat menjangkau Kabupaten Pegunungan Arafak dan Sorong Selatan, serta satu titik di Provinsi Maluku Utara (Morotai). 

Sementara kesebelas daerah 3T lainnya yang telah merasakan BBM Satu Harga, telah menyebar ke Kabupaten Nunukan (Kaltara), Kabupaten Nias Selatan (Sumut), Kabupaten Kepulauan Mentawai (Sumbar), Kabupaten Jepara (Jateng), Kabupaten Sumenep (Jatim), Sumbawa (NTB), Sumba Timur (NTT), Wakatobi (Sulawesi Utara), Kabupaten Mahakam Hulu (Sulteng),Kabupaten Bengkayang (Kalbar) dan Kabupaten Kepulauan Talaud (Sulut).

Salah satu kendalanya adalah distribusi BBM Satu Harga ke daerah 3 T tersebut. Dengan infrastruktur yang memadai, menggunakan fasilitas tol laut, bahkan melalui jalur udara. Pemerintah menganggarkan Rp300 miliar, untuk menggantin operation cost. Jika akhir tahun terpenuhi target penyaluran BBM sebanyak 54 titik, maka anggaran operasional bertambah Rp800 miliar. 

Anggaran distribusi guna mendukung BBM Satu Harga selama ini ditanggung Pertamina. Melalui perwakilannya, pelaksanaan distribusi kemudian dibebankan kepada pemangku kepentingan di setiap daerah, agar harga kedua jenis BBM tersebut harganya sama sampai ditempat. Pemerintah dan Pertamina sendiri telah mentargetkan pada 2019 sebanyak 150 lembaga penyalur yang dilakukan secara bertahap. Tahun 2017 ditargetkan 54 titik, tahun 2018 sebanyak 50 titik dan tahun 2019 sebanyak 46 titik.

Dengan terpenuhinya 22 titik daerah merasaha BBM Satu Harga, diharapkan masyarakat lebih mudah menjalankan aktifitas ekonominya. Harga BBM yang terjangkau memiliki efek manfaat yang berlipat, terutama untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah lebih tinggi. Kedua dengan bbm murah kesenjangan antara kaya dan miskin bisa diperkecil gap-nya. Dengan fasilitas infrastruktur yang sedang dibangun, dan harga bbm yang terjangkau, secara tidak langsung akan memperbesar produktivitas yang tinggi dan pola konsumsi bertumbuh, sehingga harga-harga komoditas bisa terjangkau. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook