Akar disintegrasi menurut Cak Nun, karena manusia saling mengklaim paling benar. Padahal kebenaran sejati, datangnya dari Allah. Kenapa manusia mengklaim kebenaran itu milik dirinya atau golongannya. Di sini semua elemen bangsa, harus melepaskan klaim kebenaran tersebut, untuk mencari apa yang salah.

Manusia taat kepada Allah dengan perangkat akal sehat. Untuk itu, manusia perlu meningkatkan nilai komponen akal sehat dengan belajar dari waktu ke waktu.  Dalam kehidupan didalamnya diketahui ada benar-salah. Ada baik-buruk, gagal-berhasil. Hal ini sudah diketahui sejak abad silam oleh para filosof. Kemudian dikembangkan dalam nilai-nilai di sekolah sampai perguruan tinggi.

Namun sayangnya belum pernah dielaborasi manajemen kebaikan, kebenaran, kemulyaan dan keindahan. Yang terjadi di Indonesia sekarang ini, belum pernah terjadi tercatat di sejarah dunia manapun. Dimana orang yang mempertahankan kebenaran berbenturan dengan pihak lain yang mempertahankan kebenaranya. Dalam hal ini diwakili oleh kelompok, parpol, front atau apapun.

Pertanyaan terbesar, bagaimana kebenaran yang satu bisa mempertengkarkan manusia? Jangan-jangan manusia melewatkan dimana letak kebenaran, dimana letak kebaikan dan dimana letak kemulyaan.  Kebenaran buat Cak Nun merupakan rumusan yang ada dalam diri masing-masing manusia. Namun jelas Cak Nun, kebenaran tidak perlu dikeluarkan dari dalam dirinya. Kebenaran tidak tersegmen dalam sebuah agama, atau demokrasi, melainkan secara khusus tersimpan dalam diri, karena manusia mau mencarinya.

Kebenaran tidak perlu dikeluarkan dari dalam diri. Karena output kebenaran adalah, keindahan, kebajikan dan kemuliaan. Ibarat warung, letak kebenaran itu di dapur. Sedangkan kondisi sekarang ini, urusan dapur dijadikan display produk utama, bukan malah masakan-masakannya.  Masing-masing pihak ini mengklaim merasa paling benar. Ini problem terbesar kita sekarang ini. 

Firman Allah dalam Al-Quran Alhaqqu minrobbika, fala takunanna minal mumtarin. Kebenaran itu berasal dari Allah. Manusia hanya berhak merasakan tetesan kebenaran, tapi jangan pernah mengklaim kebenaran itu miliknya. Masing-masing manusia punya cara menafsirkan kebenaran, jadi tidak akan pernah sama. 

Tugas manusia dalam menerima kebenaran, adalah membuat nyaman orang lain dengan tidak menista, membuat kenyamanan dalam diri sendiri, dan tidak mengganggu orang lain. Hal ini semuanya digambarkan disemua kitab suci, dan disemua lini kebijaksanaan tradisi. Dalam falsafah Jawa disebutkan Ojo Rumongso biso, akan tetapi rumongsoo biso. Artinya manusia harus siap dalam ketidakbenaran diluar dirinya, yang tidak sama dengan dirinya. Maka manusia harusnya berpuasa dengan kebenaran yang dirasakan, tidak usah diumbar keluar. 

Elemen masyarakat, pemerintah sekarang ini saling umbar kebenaran dalam dirinya. Sehingga tidak menemukan kedamaian, yang ada saling adu kebenaran. Cak Nun berharap semua elemen bangsa berhenti mempermasalahkan kebenaran, membenci pihak yang tidak sama, apalagi ingin memusnahkan siapa yang salah.  Tugas elemen bangsa sekarang ini adalah mencari apa yang salah, dan apa yang benar. Kita bangsa Indonesia, wajib menerima semua perbedaan tersebut, seperti halnya falsafah bangsa Bhinneka Tunggal Ika. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook