Terbatasnya infrastruktur kesehatan dan pendidikan di Papua, membuat pemerintah memutar otak untuk mempersiapkan perubahan. Dengan melibatkan diaspora Indonesia yang familiar dengan teknologi guna menolong kebutuhan kesehatan dan pendidikan.

Pemerintah mengajak diaspora Indonesia untuk ikut berperan memecahkan problem ketimpangan ekonomi dan sosial masyarakat. Artinya peluang para diaspora Indonesia cukup terbuka, dalam membantu keterbelakangan sebuah daerah. Contoh untuk Papua dan Papua Barat dengan indikator rasio elektrifikasi hanya 48,74%, dengan dibangunnya infrastruktur di Papua, harapannya akan lebih membuat percepatan kemajuan daerah tersebut.

Ketertinggalan Papua juga terlihat dari inefisiensi penggunaan budget anggaran yang mencapai US$10 miliar  untuk menopang penduduk yang hanya 4 juta orang. Dana yang terserap hanya 50%, sisanya malah menguap di luar kebutuhan utama daerah tersebut.

Melalui komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur, alahkah serasinya jika melibatkan diaspora Indonesia, untuk membangun sektor vital, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan dan pertanian. Ketiga sektor itu, jika dikembangkan secara riset dan teknologi akan mengurangi ketimpangan. Melalui riset dan teknologi yang dimiliki diaspora Indonesia, akan mendorong kemajuan sebuah wilayah. 

Keingingan keterlibatan diaspora Indonesia dalam pembangunan daerah akhirnya terjawab. Saat inti pemerintah yang diwakili oleh Bappenas telah menandatangani nota kesepakatan dengan IDN Global (Jaringan Diaspora Indonesia). Hal ini diharapkan akan membantu pemerintah dalam mengimplementasikan wilayah pendidikan dan pengembangan teknologi untuk menunjang kesehatan masyarakat (telemedicine) dengan menggunakan MEO Satellite. Presiden IDN Global, Herry Utomo sedang mengumpulkan 80 profesor Indonesia di Amerika Serikat untuk mewujudkan sarana pendidikan dan telemedicine di provinsi Papua dan Papua Barat. 

Sedangkan menurut Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, penggunaan telemedicine cukup erat kaitannya dengan proyek Palapa Ring Timur. Melalui satelit akan bisa menghubungkan titik-titik wilayah timur yang belum terjangkau internet. Dengan minimnya layanan medis, teknologi telemedicine akan mampu mengatasi masalah pelayanan medis di berbagai wilayah yang sulit terjangkau. Tanpa harus membuang waktu, telemedicine akan mengatasi keterbatasan pelayanan diagnostik, serta menjadi wahana pembelajaran kedokteran dan pengawasan pasien. 

Sampai saat ini, keberadaan rumah sakit cukup terbatas. Di Papua barat, hanya ada Rumah Sakit Sorong sebagai pengampu, dan rumah sakit yang diampu antara lain Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ampat, Puskesmas Oransbari dan Puskesmas Sausapor. 

Sementara di Papua, rumah sakit pengampu yakni RS Dok II Jayapura, yang diampu oleh RS di Jakarta (Universitas Indonesia), Makassar (Universitas Hasanuddin) dan Yogyakarta (Universitas Gajah Mada). "Telemedicine baru bisa diterapkan manakala jaringan telekomunikasinya bagus. Jika bagus akan menopang permasalahan kardiologi, penyakit tropis, psikiatri dan masalah ibu hami," tegas Bambang. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook