Isu-isu perjuangan pasca kemerdekaan menjadi tema penting tumbuhnya perfilman di Indonesia. Namun semenjak pasca reformasi tidak banyak sineas yang mengangkat budaya melawan korupsi, yang saat ini menjalar seantero negeri. Kali ini, BPK bekerjasama dengan USAID-CEGAH, melakukan roadshow Festival Film Kawal Harta Negara.

Hari ini masyarakat  Indonesia merayakan hari Film Nasional pada 30 Maret 2017.  Apa yang menjadi sebabnya? Enam puluh tujuh tahun silam, tepatnya 30 Maret 1950 dilakukan syuting perdana film 'Darah dan Doa', sebuah film karya Usmar Ismail. Merupakan film yang pertama kali diproduksi oleh Usmar Ismail.  Film ini mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit Divisi Siliwangi RI yang diperintahkan kembali ke pangkalan, dari Yogyakarta ke Jawa Barat, karena saat itu kerajaan Belanda menduduk Yogyakarta.

Film Darah dan Doa diciptakan oleh Usmar Ismail,  atas banyaknya film-film yang diproduksi di Indonesia oleh keturunan Tionghoa yang tidak menggambarkan nilai-nilai perjuangan masyarakat Indonesia saat itu.   Kemudian Asrul Sani  juga memproduksi film berjudul 'Pagar Kawat Berduri' yang diproduksi tahun 1961. Film tersebut  bertema peperangan nasional tersebut diproduksi untuk mengembangi film-film yang diputar di bioskop yang banyak di dominasi dari seniman Lekra yang berhaluan komunis. Lewat Asrul Sani organisasi Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), Asrul Sani mengembangkan idiologi Pancasila dalam karya filmnya. 

Tema Film Kawal Harta Negara

Begitu banyak film pasca kemerdekaan yang memang dibuat dengan mengadaptasi kejadian nyata kondisi bangsa saat itu. Ide dan peluang ini kemudian ditangkap oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia  untuk bekerjasama dengan United States Agency for International Development (USAID)-CEGAH  untuk menggelar roadshow Festival Film Kawal Harta Negara 2017.  

Tepat di hari perfilman nasional ini roadshow ke tiga Festival Film Kawal Harta Negara mengunjungi daerah Ternate, tepatnya di Kantor BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara. Acara roadshow diisi dengan berbagai kegiatan seperti talkshow dengan BPK, workshop film dengan sineas Danial Rifky (sutradara Haji Backpacker), serta workshop mengenai pembuatan video Citizen Journalism bersama narasumber dari NET TV, Thomas Herda.

Festival film ini berupaya mendorong partisipasi publik, khususnya pelajar/mahasiswa, pembuat film, dan komunitas kreatif di Indonesia untuk membuat film yang menggambarkan tentang tugas dan kewajiban dalam mengawal harta negara. Sejumlah kategori yang dikompetisikan antara lain film pendek fiksi, film pendek dokumenter, video citizen journalism, dan iklan layanan masyarakat (public service announcement/ PSA). 

Seluruh kategori ini terbuka untuk pelajar dan umum. Pengiriman karya peserta telah dimulai sejak 14 Maret 2017 dan ditutup pada 7 Juli 2017. Bagi yang ingin berpartisipasi silahkan mengaksesnya di http://www.bpk.go.id/news/kompetisi-film-kawal-harta-negara.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook