Baginya, media massa saat itu sudah lama terbelenggu.
Foto: Yayasan Wahid Institute

Pers di Indonesia pernah mengalami masa kelam pada zaman Orde baru alias masa pemerintahan Suharto. Dengan adanya Departemen Penerangan (Deppen), media massa tak bisa menggeliat bebas. Sedikit saja menyinggung kekuasaan, maka media tersebut akan dibredel.

Tempo, Detik dan Editor adalah salah satu media yang pernah dibredel oleh Deppen. Media benar-benar tak punya ruang gerak yang bebas. Namun di era reformasi, yakni masa jabatan BJ Habibie, pers pun mendapat kebebasannya. Walaupun hanya sedikit.

Kemudian muncullah sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang menjabat sebagai presiden RI di tahun 1999. Ia menjelma menjadi sosok yang berjasa untuk kebebasan pers. Tak banyak orang yang tahu tentang ini. Namun berkat keputusannya membubarkan Deppen, pers pun bisa merdeka semerdeka-merdekanya.

Memang tak mengejutkan karena Gus Dur merupakan jurnalis yang sangat aktif menulis sebelum ia menjabat sebagai presiden. Ia menilai bahwa infromasi merupakan milik publik sepenuhnya. Gus Dur besar lewat tulisannya yang banyak diangkat oleh berbagai media. Ide, kritik dan pandangannya menjadi salah satu yang berharga pada kala itu.

Salah satu pembesut Tempo, Goenawan Mohamad pun akhirnya menyediakan satu meja dan mesin ketik untuk seorang Gus Dur yang banyak menulis tentang sosial budaya bahkan kritiknya seputar sepak bola.

Sosok Gus Dur dan pemikirannya juga sering di angkat dalam berbagai media. Maka tak heran ketika di angkat menjadi presiden, Deppen yang dianggap dosa besar terhadap demokrasi di Indonesia pun ia bubarkan. Jumlah wartawan pun meningkat delapan kali lipat pada era pemerintahannya.

Atas jasanya tersebut, Gus Dur akhirnya pernah mendapat berbagai penghargaan dari media massa. Ia banyak dinobatkan sebagai pejuang kebebasan pers, hak asasi manusia, toleransi dan reformasi.

"Saya tidak ingin mengorbankan kemerdakaan pers hanya karena proses belajarnya yang sedang dilalui," kata Gus Dur bahkan ketika ia dikritik tajam oleh media pada masa jabatannya sebagai presiden.

Baginya, media massa saat itu sudah lama terbelenggu.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook