Beras dan jagung Indonesia siap ekspor ke negara tetangga. Hal ini menjadi langkah positif, setelah infrastruktur seperti bendungan dan irigasi dibangun, tambahan anggaran untuk bibit, pupuk dan alsintan. Pemerintah menambahkan anggaran sebesar Rp5,5 triliun untuk mendukung produktivitas petani lokal dalam mengembangkan buah dan pangan lokal.

Keberhasilan Pemerintah Jokowi di sektor maritim dengan kebijakan tol laut dan sektor perikanan tangkap, akan disusul dengan kejayaan sebagai negara agraris. Sampai saat ini produksi beras dan jagung telah mengalami lompatan yang cukup besar, dengan swasembada. Hal ini diyakinkan dengan naiknya Indonesia ditingkat internasional di peringkat 16, dalam kategori sustainable agriculture, mengalahkan Amerika Serikat di peringkat 19. Sebuah prestasi yang cukup mengesankan, ketika 3 tahun pemerintahan Jokowi menuai panen yang baik di sektor ketahanan pangan.

Apa saja sih program pemerintah Jokowi di sektor pangan. Komoditi beras tahun 2014 berhasil menyentuh angka 70,6 juta ton, ditargetkan meningkat menjadi 82 juta ton per tahun 2019. Disektor produksi ikan tahun 2014 jumlahnya mencapai 12,4 juta ton meningkat menjadi 18,8 juta ton. Sedangkan dalam produksi daging merah, pemerintah menetapkan target tahun 2019 mencapai 755,1 ribu ton dari pencapaian tahun 2014 sebesar 452,7 ribu ton.

Untuk komoditas jagung misalnya, Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian menjelaskan bahwa Indonesia telah mengekspor jagung sebanyak 3 juta ton ke negara Malaysia. Sedangkan komoditi beras Indonesia bakal diimpor oleh negara Vanuatu, Samoa dan Fiji, dengan harga US$1 per kilogram. Ketersediaan beras Indonesia cukup meyakinkan, ketika stoknya mencapai 1,7-1,8 juta ton (atas setara dengan kebutuhan nasional selama 9 bulan).Guna memingkatkan komoditas beras, Amran mengaku telah mempersiapkan lahan sawah di daerah perbatasan seperti Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Merauke. 

Dalam upaya terhadap proteksi petani, Pemerintah telah menyiapkan paket bantuan berupa alsintan yang modern, dengan jumlah bantuannya meningkat hingga 2.000 persen. Petani juga memberikan jaminan asuransi pertanian kepada petani padi dengan subsidi 80% setiap kewajiban preminya. Sedangkan untuk ketersediaan daging merah, pemerintah juga memberikan proteksi asuransi kepada peternak sapi, dengan subsidi premi mencapai 80%. 

Di sektor infrastruktur yang mendukung pertanian, pemerintah menargetkan 30 bendungan baru yang selesai pada tahun 2017. Termasuk didalamnya pembangunan 1 juta hektar pembangunan jaringan irigasi baru, 3 juta hektar rehabilitasi jaringan irigasi dan didukung pembangunan listrik tenaga air mencapai 30 unit PLTA. 

Jadi bukan tanpa basa-basi, Presiden Jokowi menginginkan ketahanan pangan terpenuhi.Segalanya telah dipersiapkan oleh pemerintah, mulai dari  infrastruktur penunjang, fiskal untuk subsidi pupuk, bibit, paska panen, alsintan untuk mengurangi biaya tanam 30-50%. Untuk komoditi beras yang terus meningkat signifikan. Tahun 2015 saja, produksi gabah kering giling mencapai 75,55 juta ton, meningkat sekitar 4,66 persen dibanding 2014 sebesar 70,85 juta ton. Tren positif ini berlanjut pada tahun 2016 menjadi 79 ton. 

Rupanya, kinerja positif di sektor pangan dan pertanian telah mengerek Indonesia di peringkat dunia. Tercatat posisi Indonesia berada di 25 besar dalam kategori overall dalam pembangunan pertanian on the track. Dari aspek sustainable agriculture, peringkat Indonesia bertengger di urutan 16 dengan score 53,87, setelah Argentina. Untuk aspek Nutritial Challenges peringkat Indonesia mencapai urutan 18 dengan score 56,79 setelah Brazil. Sedangkan aspek food loss and waste Indonesia diperingkat 24 dengan score 32,53 setelah UEA dan diatas Arab Saudi. Kinerja positif tersebut, menjadikan sektor pertanian dari hulu hingga hilir telah menyumbang kontribusi hingga 55 persen terhadap PDB Indonesia. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook