Melalui fungsi RT/RW yang bekerjasama dengan MUI, Ridwan Kamil telah mengambil langkah-langkah sistematis, agar fungsi masjid kembali normal, sebagai tempat beribadah dan tempat mengajarkan kedamaian serta religiusitas.

Ridwan Kamil (kanan), dan istrinya, Atalia Kamil (keempat kiri), mendampingi Raja Swedia, Carl XVI Gustaf (kedua kanan), dan Ratu Silvia, pada kunjungan Kenegaraan di Bandung, Jawa Barat.

Ridwan Kamil (kanan), dan istrinya, Atalia Kamil (keempat kiri), mendampingi Raja Swedia, Carl XVI Gustaf (kedua kanan), dan Ratu Silvia, pada kunjungan Kenegaraan di Bandung, Jawa Barat.

Ajakan pemerintah untuk memfungsikan masjid sebagai tempat dakwah, diamini oleh Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung. Masjid seharusnya sebagai tempat mengajak kebaikan, bukan malah sebagai sarang penyebaran faham kebencian yang sering terjadi belakangan ini.

"Dakwah di masjid sifatnya harus ramah, merangkul dan menghindari dakwah terlalu keras," tutur Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung.

Dakwah secara harfiah berarti mengajak. Ketika dakwah dibelokkan dalam arti menghasut, memaksa dan mengumbar kebencian, ini sama saja mengganti rumah Allah dengan rumah iblis.

Melihat perkembangan fungsi masjid yang melenceng jauh, Ridwan Kamil ingin mengembalikan fungsi masjid, sebagai sarana menularkan ajakan-ajakan kedamaian, persaudaraan, sikap saling mengasihi bukan saling menjatuhkan dan berburuk sangka. "Dakwah yang lebih merangkul bukan memukul, menebar rasa cinta bukan menebar rasa benci, kemudian mengisi muamalahnya hubungan dengan masyarakatnya berbaik sangka, bukan berburuk sangka," katanya.

Menurut dia, program Mahgrib Mengaji dan Subuh Berjamaah yang digagas Pemerintah Kota Bandung salah satu tujuannya untuk menitipkan pesan-pesan damai, di samping meningkatkan nilai religiusitas. "Kami tenang Subuh Berjamaah dan Mahgrib Mengaji menjadi instrumen mendekatkan diri kepada religiusitas. Ujungnya menekan radikalisme," kata dia.

Sebelumnya kata dia, sempat ada penceramah di beberapa mesjid di Kota Bandung yang berceramah dengan cara tidak mengandung unsur kedamaian, namun mampu diantisipasi oleh masyarakat sekitar. "Mampu diantisipasi sehingga tidak terjadi kekhawatiraan seperti yang kita bayangkan, karena RT/RW kompak dengan MUI," ujarnya.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook