Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) cukup percaya, akan kekuatan ayat ini. "Kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang Ambil", cuplikan perkataan Ahok ini ternyata sama persis dengan Al-Imron ayat 26. Dan itu power tersendiri bagi Ahok dan para pendukung.

Mengukur parameter hasil Pilkada DKI dalam berbagai hal teknis. Ahok-Djarot didukung 2 partai besar PDI-P, Golkar, Nasdem. Diluar ketiga partai tersebut masuk 2 partai PKB dan PPP dari 2 kubu sebagai partai pendukung. Basis masa mereka agama Islam moderat dan sebagian lagi golongan Kristen. Sedangkan pasangan Anies-Sandi didukung dengan 2 partai  Gerinda dan PKS serta PAN. Hanya partai Demokrat yang secara resmi tidak salah satu dari kedua mendukung pasangan calon.

Yang menjadi pertanyaan, kemana suara dukungan dari pendukung Agus-Silvi dibalik 2 partai pendukung massa Islam moderat, yakni PKB dan PPP.  Menurut penulis, dua massa ini tidak serta merta mengikuti langkah para pemimpin partai yang sudah berada dalam payung besar Surya Paloh, Idrus Marham dan Hasto Kristanto. Basis massa mereka sudah menyeberang ke dukungan Anies-Sandi, mereka tidak peduli lagi arahan pemimpin partai mereka, yang penting mereka 'selamat' menentukan hak politik mereka, yakni sosok Gubernur Muslim. Tak peduli buat mereka, seperti statemen pembesar NU seperti Kyai Said Aqil 'membela' sosok Ahok-Djarot, dengan berbagai tafsir ayat yang lebih moderat, dibanding ayat-ayat Al-Quran  letterlijk  (tekstual) yang tidak masuk dalam nalar dan batin mereka.

'Yang penting mereka selamat' ini menjadi kata kunci dalam penulisan ini. Dalam ranah luas mereka ingin selamat dunia dan akhirat dengan mengikuti arahan ulama yang menurut mereka lebih berkompeten mengeluarkan fatwa dibanding MUI atau ormas seperti Muhammadiyah dan NU.  Sosok Habib Riziq lebih pantas disebut panutan rakyat, seperti pula yang diucapkan Anies Baswedan.  Gerbong-gerbong pendukung Anies-Sandi lebih memiliki massa konservatif yang militan, dibanding gerbong pendukung massa Ahok-Djarot dengan basis massa konservatif moderat. 

Selamat dalam tanda kutip juga didukung basis massa muslim dari mereka mayoritas yang dalam ranah agama disebut sebagai  taqlid (pengetahuan keimanan tanpa didasari kemampuan mengambil dalil aslinya). Disamping itu golongan massa konservatif moderat (basis masa pesantren) juga sebagian pindah mendukung Anies-Sandi, karena memang buat mereka memilih Ahok-Djarot seperti memiliki risiko bertentangan nash-nash yang mereka pelajari selama di pesantren atau sekolah tinggi. Intinya, banyak massa pendukung Islam konservatif moderat (MK moderat) terjebak dalam orasi-orasi "Gubernur Harus Islam". Mereka terafiliasi sebagai massa Nahdlatul Ulama, namun tidak mengikuti arahan pemimpin yang terlalu condong kepada Ahok-Djarot. Sosok Gus Dur meski didukung basik massa konservatif moderat, disisi lain juga dicelah kekurangan oleh  basis massa konservatif militan, bahkan basis massa semi radikal.

Penulis banyak belajar dari dua basis massa konservatif tersebut. Ormas NU tidak serta merta didukung penuh oleh pendukung gagasan pemikiran Gus Dur sebagai gerbong pembaharuan. Golongan inilah yang kemudian disebut massa konservatif militan (MK militan), dengan catatan mereka belajar Al-Quran, Hadits, Tasawuf, Mustolahul Hadits, Fiqh, Usul Fiqh, Ulumul Quran, namun tidak menghendaki pembaharuan. Mereka MK moderat bisa masuk dan berafiliasi dengan berbagai kelompok, bahkan non muslim sekalipun, seperti langkah Gus Dur selama hidupnya. 

Dalam hal ini mesin politik partai pendukung Ahok-Djarot tidak berjalan maksimal, bahkan patah oleh pendukung MK militan dan MK moderat yang saling bersatu dalam nuansa politik, meski berbeda mazhab dan aqidah. Mereka dalam organisasi bergerak selangkah lebih rapi dan tersistem seperti dalam dunia militer. Tentu pembaca masih ingat Parade Tauhid 2015, mereka bergerak secara massif, ingin menggeser kemapanan MK moderat yang lebih dekat dengan pemerintah. Bahkan lebih dari itu, kepentingan politik besar dibalik kekalahan Ahok-Djarot, dan kekalahan kaum moderat.  Suka tidak suka ini adalah pilihan dan kehendak rakyat DKI Jakarta dengan terpilihnya Anies-Sandi sekarang, walau berbagai kepentingan mengalir dibelakang salah satunya Islam Politik dan pihak-pihak yang tidak suka dengan  'kebersihan', kemajuan dan kepintaran  dalam kepemimpinan Ahok-Djarot. 

Akhirnya, pola-pola kebersihan, kemajuan dan kepintaran Ahok-Djarot tidak disukai oleh segelintir pihak dan efeknya bagi mereka cukup 'membahayakan' bila terus-menerus memimpin DKI Jakarta. Dalam bahasa penulis, jatah-jatah kue itu habis, jika dibabat habis dan mereka marah karena bagiannya diserobot orang. Ini bukan sebuah akhir dari cerita, ingat dalam Ali-Imron 26 adalah titah Tuhan, semua kekuasaan kembali kepadanya atas izinnya. 

Teringat sosok pahlawan Raden Mas Ontowiryo (Pangeran Diponegoro )yang habis-habisan bertempur melawan kolonialisme Belanda. Setelah ditangkap oleh Belanda, kemudian diasingkan di Sulawesi. Konon ia bersumpah dalam karya tulisnya di Babad Diponegoro, meski kalah melawan Belanda, Beliau sedang mempersiapkan sebuah kepemimpinan Al-Mansour atau sosok Mesias melalui perjuangannya yang cukup mengorbankan darah dan jiwa. Meski perjuangannya pupus, ternyata para pendiri bangsa Indonesia terlahir dari anak-anak pengikut gerakan Diponegoro saat itu. 

Nama Ir. Sukarno, Dr. Sutomo, Ki Hajar Dewantoro, Cokroaminoto, KH. Hasyim Asyari adalah nama-nama pendiri bangsa terlahir dari darah pengikut gerakan Diponegoro.  Mereka bergerak membangun nusantara ini menjadi NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, yang kita warisi sekarang. Jadi bagaimana arah DKI Jakarta selanjutnya, nahkoda Anies-Sandi mencoba tampil lebih baik dari sosok Ahok-Djarot, kita menjadi saksi kedua pemenang Pilkada DKI 2017 ini. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook