Hizbut Tahrir (HT) kepanjangtanganan dari aliran Mu'tazilah, terlahir sebagai gerakan politik, dan diduga sebagai kaki tangan asing yang ingin menggulingkan pemerintahan resmi.

Kader-kader HTI pastinya tidak mau kalau kegiatannya dianggap merongrong ajaran Pancasila dan NKRI. Pemerintah memerintahkan pembubaran HTI per 8/5/2017, melalui keterangan pers oleh Menkopolhukam Wiranto. 

Berikut fakta-fakta landasan pemahaman Hizbut Tahrir yang disarikan dari slide Muhammad Idrus Ramli salah satu pakar Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dari Jawa Timur. Point-point salah ini difahami oleh anggota HTI dan berlawanan dengan akidah Aswaja serta berbahaya untuk keselamatan NKRI.

a. Pertama hadits 'khilafah ala manhajin nubuwah'  yang diriwayatkan Hudzaifah menyatakan terdiri dalam 4 fase pertama  fase kenabian. Kedua fase khulafaurrasyidin. Ketiga dan Keempat fase kerajaan diktaktor yang memaksakan kehendak kepada umat. Fase kelima fase khilafah nubuwwah yang dinantikan oleh Hizbut Tahrir.

Fase kelima menurut  pandangan ulama Aswaja, merupakan kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz. Pendapat ini merupakan pendapat, Imam Ahmad bin Hambal, Abu Bakar Al-Bazzar, Abu Dawud at-Thayalisi, Abu Nu'aim al-ashfihani, al-Hafidz al-Baihaqi, al-Hafidz ibn Rajab al-Hambali, al-Hafidz Jalaluddin as0-Suyuthi, dan Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

b. Dalam menjalani perjuangan menurut Hizbut Tahrir dimulai dari merebut kekuasaan, kemudian merubah sistem kenegaraan dari sekuler menjadi khilafah, kemudian memperbaiki masyarakat melalui mesin kekuasaan. Hal ini didasari bahwa dulunya hizbut tahrir merupakan partai politik yang didirikan oleh Taqiyuddin Nabhani pada 1952. 

c. Hizbut Tahrir menganggap rusaknya sistem akibat kerusakan masyarakat dalam menafsiri Al-An'am 129. Hal ini bertentangan dengan tafsir ayat tersebut bahwa kerusakan sistem diakibatkan oleh pemimpin atau hakim yang rusak. Diperkuat dengan pendapat Imam Ali Karamallah Wajhah : Tidak akan baik suatu keadaan manusia kecuali dipimpin pemimpin yang adil dan sholeh.

d. Hizbut Tahrir membolehkan penggulingan pemerintah yang sah. Hal ini ditentang dengan golongan ahlussunnah dalam tidak boleh menggulingkan pemerintahan meskipun mereka berbuat dhalim.Karena menggulingkan pemerintahan yang sah hukumnya haram. 

e. Pendiri Hizbut Tahrir Taqiyyuddin Nabhani, mengadopsi faham Mu'tazilah bahwa perbuatan manusia  tidak ada kaitannya dengan keputusan Allah (Qadla). Namun dalam kaidah ahlussunnah, semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah dan terjadi sesuai keputusan Allah. 

f. Ayat-ayat mutasyabihat (tersamar maknanya) dalam al-Quran dita'wilkan pertama kali oleh ulama salaf. Namun pihak Hizbut Tahrir mengedepankan teolog sebagai pihak yang menta'wili ayat mustasyabihat.

g. Qadar (ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah) dianggap sebagai ilmu  Allah. Hal ini berindikasi bahwa keburukan kepada Allah. Hal ini bertentangan dengan firman dalam Al-Quran : Apa menimpa manusia dari suatu musibah disebabkan perbuatan manusia.

h. Hizbut Tahrir menyebutkan bagi siapa saja yang berpangku tangan dari menegakan khilafah, termasuk dosa besar, dan menghentikan eksistensi Islam dalam ranah kehidupan. Semua muslim dosa besar karenanya. Padahal Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Al-Iqtishad fi al-i'tiqad hal 200, menegaskan, kajian tentang khilafah tidak penting, dan lebih selamat jika tidak mengkajinya.

j. Bagi Hizbut Tahrir  dalam at-Tafkir : 149, "Siapa saja mampu berijtihad". Hal ini bertentangan dengan ulama Ahlussunnah jika perkara ijtihad telah diputus sejak ratusan tahun lalu. Barang siapa yang mengaku sebagai seorang mujtahid, maka dianggap gadungan.

k. Hizbut Tahrir juga memboleh bersentuhan, mencium wanita lain yang bukan mahram dan menonton film porno.

l. Perihal terakhir yang adalah Hizbut Tahrir membolehkan bekerja menjadi agen negara kafir. Hizbut Tahrir juga menganggap berdosa kepada muslim yang percaya kepada siksa kubur dan Imam Mahdi.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook