Isu keterbatasan energi fosil di Indonesia ditampik oleh wakil menteri ESDM Arcandra Tahar. Butuh teknologi baru untuk menembus cadangan minyak di perut bumi. Di AS, sejumlah ilmuwan tengah mengembangkan metode big data dalam membantu menemukan 10 mineral rantai karbon yang memperkuat penerapan eksplorasi.

Masa depan kehidupan masyarakat sudah harus berani merubah mainset, terutama untuk sedikit demi sedikit meninggalkan penggunaan energi yang berasal dari fosil. Saat ini cadangan minyak Indonesia ditaksir hanya 3,6 miliar barrel, dengan kemampuan produksi 800 ribu barel per hari, maka taksirannya cadangan minyak akan habis dalam 12 tahun. Langkah pemerintah Indonesia selanjutnya mendorong berbagai pihak untuk  untuk menemukan renewable energy atau dalam istilah lain energi baru terbarukan (EBT). 

Tugas pemerintah yang diwakili Kementerian ESDM merubah mainset terhadap ketersediaan minyak yang terbatas, dengan meluruskan informasi bahwa kurun 12 tahun kedepan ditakutkan tidak bisa memproduksi minyak, bukan pada titik energi fosil yang habis. Wakil menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan bahwa energi fosil sebenarnya tidak habis, karena saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras minyak hingga di bawah perut bumi sampai 100 persen. Menurutnya teknologi eksplorasi saat ini baru bisa mengeksplorasi paling banyak 40-50 persen saja, dan belum ada teknologi yang bisa menyentuh cadangan minyak sebesar 60 persen di bawah perut bumi.

Selain itu,  solusi EBT yang ditawarkan masih dalam  proses penelitian antara Balitbang Kementerian ESDM  dengan Universitas Pembangunan Nasional  (UPN) Veteran. Kedua instansi ini mencoba mengembangkan biofuel dari kemiri sunan dan shorghum. Teknologi tersebut diharapkan dapat diproduksi secara masal dan harga yang ditawarkan cukup murah. Dari sisi teknologi, pemerintah mempersiapkan teknologi jangka pendek guna memperbanyak produksi seperti underbalanced drilling, pemasangan artificial life, submersible pump atau fracking.

Sedangkan jangka menengah pengambilan minyak bisa menggunakan enhanced oil recovery (EOR). Untuk jangka panjang harus dengan upaya menemukan cadangan-cadangan baru (replace replacement value). Menurut Arcandra, cadangan baru kisarannya baru mencapai 60-70 persen replace replacement ratio. 

Sementara kekhawatiran dunia akan menipisnya ladang minyak untuk kebutuhan umat manusia juga menjadi perhatian khusus  para ilmuwan.  Mereka (para ilmuwan) yang tergabung dalam Deep Carbon Observatory (DCO)   dan  Carnegie Institution for Science di Washington,  tengah mencari bahan tambang, mulai dari minyak, gas, tembaga, sampai emas, dengan mengadopsi teknik-teknik yang digunakan perusahaan-perusahaan seperti Netflix dan Amazon dalam menggunakan kumpulan data sangat besar (big data). Dalam jurnal American Mineralogist, metode big data telah membantu menemukan 10 mineral rantai karbon yang membantu memperkuat penerapan eksplorasi. Di antara 10 mineral rantai karbon yang langka yang ditemukan melalui proyek ini adalah abellaite dan parisaite-(La). Kedua mineral yang keberadaannya sudah diprediksikan sebelum ditemukan, memiliki aplikasi ekonomi yang tak diketahui.

Teknik ini diterapkan jauh melewati geologi tradisional dengan cara mengumpulkan data mengenai bagaimana dan di mana mineral dibentuk, contohnya pendinginan lava setelah letusan gunung berapi. Data ini kemudian bisa digunakan untuk membantu menemukan cadangan-cadangan energi lainnya.

Struktur mineral bersatu mirip sekali dengan cara manusia berinteraksi dalam jejaring sosial seperti Facebook, seperti halnya  mineral yang  tercipta di Bumi dalam bentuk kluster-kluster.  Robert Hazen, direktur eksekutif Deep Carbon Observatory pada Carnegie Institution for Science di Washington, mengungkapkan bahwa teknik ini seperti Amazon saat merekomendasikan buku-buku berdasarkan permintaan pembeli sebelumnya, atau perusahaan streaming media Netflix saat menawarkan film berdasarkan kebiasaan tonton dari penonton sebelumnya."Kami tengah mempelajarinya dalam cara yang jauh lebih sistematis," kata dia mengenai proyek penelitian itu.

Ilmuwan lain seperti Gilpin Robinson dari Survei Geologi AS (USGS) yang tidak ikut terlibat dalam penelitian ini, menyatakan bahwa USGS mulai berkolaborasi dengan proyek big data ini."Penggunaan rangkaian data besar dan perangkat-perangkat analitis adalah sangat penting dalam penelitian kami mengenai sumber daya mineral dan energi," tuturnya. 

Kesimpulannya antara Indonesia dan Amerika Serikat memiliki kekhawatiran yang sama, dengan menggali kemungkinan terjadinya sumber daya mineral dan energi yang baru. Upaya kampanye hemat energi sejak dini mulai dikembangkan dengan mengembangkan transportasi masal, dan melirik sumber energi baru yang murah dan memberi manfaat kepada negara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber daya mineral dari fosil. Semoga kegelisahan kita terjawab dalam waktu dekat.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook