Ramadhan bulan unik, Tuhan menginkubasi manusia agar mampu menghasilkan lembaran kertas putih setelah bergulat dengan puasa. Bahkan telaah Quraish Shihab, spirit Ramadhan berimbas pada jiwa patriotisme warga dalam berbangsa dan bernegara.

Tuhan menetapkan perkara puasa bukan hanya pada umat Muhammad saja, melainkan sudah ditetapkan pada umat terdahulu sebelum abad Masehi. Firman Tuhan dalam Al-Quran,  "Kutiba Alaikumussiyamu kama kutiba alal ladzina min qablikum la'alakum tattaqun."

Dengan pemberlakuan kembali perintah puasa di abad ke-7 merupakan skenario Tuhan agar umat diharapkan  manusia kembali ke jalan orang yang bertakwa. Melalui jalur orang yang bertakwa inilah, Tuhan memberikan peluang agar manusia kembali mendapatkan fitrah kesucian. 

Dalam sebuah hadist dijelaskan barang siapa menjalankan puasa dengan keimanan yang penuh dan bobot yang tinggi, Tuhan menjamin akan mengampuni segala dosa terdahulu umat manusia. 

Ramadhan baru saja berlalu, spirit Ramadhan yang secara culture damai, diharapkan akan terbawa ke 11 bulan berikutnya.Spirit Ramadhan menghasilkan manusia-manusia unggul dihadapan Tuhan, untuk membawa misi kemanusiaan. Spirit inilah yang menjadi kebutuhan mendesak Bangsa Indonesia sekarang, dimana keadaan bangsa yang sangat majemuk di dunia butuh manusia-manusia yang mampu menangkap pesan-pesan Tuhan. 

Kemudian Tuhan  memperkuat dalam ayat lain, "syahru romadhona unzila fihil qurban huudan linnassi wabayyinati minal huda wal furqon".  Bulan Ramadhan telah diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan teknis dari petunjuk tersebut serta menjadi pembeda antara yang hak dan batil. Tuhan memberkati  bulan Ramadhan sebagai nilai yang kompleks serta komprehensif agar manusia mampu menangkap pesan-pesan penting dan keselamatan umat manusia, tanpa membedakan agamanya apa.  

Spirit Ramadhan secara kebangsaan akan bersumber pada fitrah kesucian. Fitrah tersebut ada tanpa sekat materil, namun menciptakan naluri kemanusiaan secara patriotik dan kecintaan terhadap tanah air. Oleh Quraish Shihab, ahli tafsir Indonesia ini menjait benang merah antara naluri manusia dengan perintah Tuhan untuk mencintai tanah air."Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencitai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish di masjid Istiqlal Jakarta pada Minggu seperti dilansir dari laman Antaranews.com.

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah.

Kesatuan itu menurut Quraish memiliki tiga arti.

"Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah," ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

"Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya," jelas Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

"Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan'," tambah Quraish.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep ikut melaksanakan salat Id di masjid tersebut. 

Bersama Presiden dan keluarga, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan istri Happy Farida, serta para menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara, dan duta besar negara sahabat.

"Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," tambah Quraish.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook