Setelah menghitung-hitung peluang-peluang peta politik di Indonesia setelah Ramadhan 1438H. Rupanya masa 2,5 tahun dari sisa umur pemerintahan Jokowi, bagi lawan politik Jokowi adalah mempersiapkan pertarungan, untuk menjegal Jokowi di 2019.

Kebijakan demi kebijakan ditelorkan, untuk mempercepat persiapan era kebangkitan di 2025. Kalau boleh kusebut, Jokowi adalah satria piningit, atau disisi lain the Dark Knight, karena kapasitas orang kecil tanpa partai yang mampu mendobrak peradaban mempertegas komitmen arah reformasi sempat hilang. Meski disisi lawan politiknya, Jokowi dianggap pro Komunis karena kedekatan dagang dan hubungan bilateral dengan Tiongkok, total perdagangan Indonesia pada 2017 tercatat US$10,22 miliar dan tahun 2020 ditargetkan meledak 15 kali menjadi US$150 miliar.

Jokowi meninggalkan ekonom Rizal Ramli yang anti kapitalis, dengan menggantinya dengan Luhut Pandjaitan, jendral bintang empat sekaligus pebisnis, karena Rizal dianggap sering membuat gaduh, dan mengetahui pos-pos korupsi di negeri ini. Mungkin saja JK tidak suka dengan sikap menkeu era Gusdur ini. Sri Mulyani (SMI) yang pernah tercatat memberi keterangan dalam kasus Century yang merugikan negara Rp6,7 triliun di era SBY,saat ini dirangkul Jokowi sebagai menkeu. Akibatnya, banyak digunakan lawan politik Jokowi, menyebutnya sebagai neokapitalisme. Neokapitalis kok bagi-bagi tanah dalam konteks perhutanan sosial ke rakyat? Ini kan sama saja menjenggal politikus yang ingin menguasai tanah negara untuk kekenyangan perutnya sendiri.

Kala Jokowi diserang lawan politiknya, ia sering kali malah loncat ke titik-titik infrastruktur yang sedang dibangun di era kepemimpinannya. Ga peduli lawan politik ngomong apa, namun disaat lawan politiknya lemah, satu persatu dikuliti, apa lagi yang pro terhadap radikalisme. Ini yang kubilang cara energik, cerdas dan mengena. Daripada jual unsur SARA atas ketidaksukaan terhadap cara kepemimpinan Ahok, ujung-ujungnya para golongan non moderat tiba-tiba mempunyai ruang gerak sebagai golongan perintis pembagian surga. Iya, Jokowi buat saya adalah satrio piningit. Logat bicara Jawa-nya, saat mukadimah pidato dalam bahasa arab, seringkali dibuat pergunjingan kalangan makelar surga. "Kok ada ahli surga ga bisa bahasa arab?" begitulah gunjingan para makelar surga di sosial media.

Kasus tersebut berangsur-angsur padam, berganti judul, Jokowi dianggap tukang hutang. Angka Rp1000 triliun dianggap angka yang fantastis oleh lawan politiknya dalam 2,5 tahun pemerintahan Jokowi. Kalau boleh tahu, sebelum era Jokowi utang untuk apa? Bagi-bagi untuk partai atau proyek mangkrak. Yang terakhir isu Presidential Threshold yang telah disepakati di pemilu tahun 2014, dianggap membebani partai seperti Demokrat, Gerindra, PKS dan PAN. Sebagian analis menyebut sebagai langkah baru membuat capres dan cawapres di 2019. Ini yang disebut dengan genderang perang politik 2019. 

Partai-partai tersebut, meriang bak sakit gigi di tengah malam, mereka emosi dengan penyakit dalam dirinya. Karena apa? karena akses menuju RI1 telah terpatri dalam UU Pemilu 2017, yang mempertahankan pola lama. Lantas siapa saja lawan politik Jokowi di 2019?

Meminjam istilah Emha Ainun Najib, elit politik masing-masing partai bak seorang raja-raja kecil di wilayah perdikan. Pertama Raja Hambalang, Prabowo. Kedua Raja Cikeas, Susilo Bambang Yudhoyono, Ketiga Raja Bugis Yusuf Kalla. Keempat Raja Manalagi ya? 

Kalau dari panglima TNI Gatot Nurmantyo yang namanya ramai di media online, mungkin saja bisa mendampingi sosok Jokowi di 2019. Buat saya, pertemuan Raja Hambalang dan Raja Cikeas telah menjadi pertanda pentas dan perang politik digelar. Untuk Pakde Jokowi yang sedang bekerja tanpa lelah, dan yang kerap kali susah dibaca langkah politiknya, memang baiknya tetap mensupport para lawan politiknya dengan kalimat-kalimat positif.

Fokus bagi Jokowi adalah memastikan semua program berjalan sesuai target, dan mengantisipasi langkah-langkah di lapangan secara energik dan tanggap keadaan. Fenomena defisit anggaran sudah ratusan kali dibahas, menjadi bahan bagi lawan politiknya untuk menyerang saat kampanye 2019. Namun untuk Jenderal Gatot Nurmantyo, terlihat mirip-mirip dengan langkah Jokowi. Pendekatan ke masyarakat dan Ulama, meski tidak mutlak tetap diperjuangkan. Ulama dan masyarakat moderat merupakan saksi sejarah yang dulu eksis melawan penjajah.

Melalui pidato Gatot, banyak pihak semacam disadarkan kembali, bahwa ulama moderat adalah penerus ulama-ulama yang dulu bergerak melawan penjajahan di Indonesia. Bukan Tentara yang umurnya masih bisa dihitung. Semacam itu pula, Jokowi menebarkan semangat positif kepada masyarakat dan ulama. Sehingga pemerintah dan aparat bisa menelaah kembali siap dibalik  ulama penjaga Pancasila dan NKRI, dan siapa ulama yang dibayar untuk menjegal Pancasila dan NKRI. Tentu pola ini cukup meredam lawan-lawan politik yang selama ini menggunakan media sosial dan ormas dalam melawan Jokowi.

Buat saya, Jokowi sebaiknya tetap menjaga situasi kondusif, fokus peningkatan kinerja dan mengatasi ketimpangan. Jokowi yang menurut senior analis LIPI Hermawan Sulistyo, suka kunjungan disana-sini, merupakan langkah manis Jokowi untuk menghindari pengaruh dan tekanan Ratu PDI-P Megawati Sukarno Putri. Hingga suatu waktu Megawati akan jengah, melihat kesibukan Jokowi berperang sendiri membangun NKRI. Selain Satrio Piningit, Jokowi buatku adalah the Dark Knight. Darah kesatria Jokowi, terlihat dalam langkah politiknya, meski berawal dari tukang kayu lulusan UGM.

Perlawanan politik dari mantan penguasa tak perlu dibuat gusar. Pengawalan Jokowi dari intelijen, TNI, Polri, ulama, ormas dan rakyat, saat ini akan menjadi benteng besar membangun kejayaan kembali maritim dan NKRI. Karena bentuk negara yang sudah disepakati,  sosok Jokowi bukan hanya berlaku sebagai raja yang mengenal produk hukum dan memutuskan masalah, namun juga matapatih.Namun, dalam referensi sejarah nusantara, mahapatihlah yang banyak melakukan aselerasi dan ekskusi di lapangan, ketimbang seorang raja. Tujuh Juta rakyat, berdemo menurunkan Ahok menjadi kekuatan politik para raja saat itu. Namun demo 287 Jumat kemarin, jauh dari kekuatan yang dibayangkan Raja Cikeas dan Raja Hambalang. 

Raja-raja kecil di wilayah Perdikan, akan terus melakukan uji strategi untuk melihat kelemahan Mahapatih Jokowi. Sayangnya, supremasi rakyat terhadap Mahapatih Jokowi terlalu kuat, meski isu-isu darurat hutang negara makin terdengar keras. Rata-rata penentang kebijakan hutang itu, adalah mereka yang cinta sama Mahapatih Jokowi, disitu anomalinya. Rakyat hanya melihat Mahapatih tetap membawa Indonesia berdaulat, dan jangan sampai disetir oleh menteri-menteri yang pernah belajar di kerajaan Asing. Pertanyaan tidak penting kemudian adalah, siapa raja perdikan keempat, selain 3 yang disebut diatas, silahkan Anda sendiri tulis siapa raja keempat tersebut. Salam. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook