Peristiwa Buaya dan Cicak jilid II, seolah terjadi lagi di era Jokowi. Lambatnya penanganan kasus Novel Baswedan sebagai senior penyidik KPK itu, akhirnya menggiring Novel untuk berstatemen bahwa kepolisian tidak perlu menyelesaikan kasus yang menimpa dirinya. Sedangkan Najwa presenter acara Mata Najwa pun menyudahi karirnya di stasiun TV milik seorang petinggi partai tersebut, usai mewawancarai sosok Novel.

Dalam akun instagram milik Najwa Shihab mengatakan dirnya telah mengundurkan diri dari Metro TV sekaligus dari program Mata Najwa, setelah melewati 511 episode Mata Najwa. Dalam statusnya, tertulis, Menuju Catatan Tanpa Titik, program Mata Najwa akan berakhir dalam episode Catatan Tanpa Titik yang berisi kompilasi terbaik.

Melihat sesi per sesi Mata Najwa berjudul Ekslusif Bersama Novel Baswedan setidaknya kita bisa bermain dalam dua peran sekaligus, meski dalam imaginer kita. Antara Novel Baswedan dan Najwa Shihab kedua warga yang masih keturunan Arab ini dalam tanggungjawab profesinya mampu menampilkan perbincangan secara fokus dan integral. Fokus dalam arti meski bullet question beberapa kali dipertanyakan oleh seorang Najwa, namun Novel menangkapnya, sebagai pertanyaan yang tidak boleh diungkap ke publik begitu saja, makanya Novel menjawab dengan hati-hati. 

Seperti Kutipan dari jawaban Novel Baswedan (NB) "Saya bersyukur dengan kejadian yang menimpa diri Saya. Karena Saya meyakini bahwa segala sesuatu tidak hanya diperhitungkan di dunia, akan tetapi ada keuntungan yang jauh lebih besar. Dan yang paling utama adalah tidak takut. Karena kalau orang takut, apa yang mau diharapkan lagi dari orang itu?"

Najwa Shihab (NS) kembali bertanya, "Anda tidak takut 6 kali ancaman, dan terakhir disiram air keras?"

NB menjawab :"Saya tidak pernah takut. Mau diancam oleh siapapun dan berapa banyak orang pun, bagi saya tidak ada masalah. Masalah bagi saya adalah, saya melakukan yang tidak baik."

Dari kutipan percakapan diatas, terlihat supremasi tunggal Novel adalah supremasi yang bertendensi kepada Tuhan. Kepercayaan akan keadilan dan pengawasan Tuhan akan melindungi dirinya dan keluarga. Iktikad atau niatan yang kuat NB patut menjadi contoh bagi kita semua. NB tidak dalam wawancara tersebut tidak lagi menuntut kasusnya selesai dan ditemukan pelakunya. Namun dibalik itu, NB menyampaikan bahwa dirinya selama ini bekerja bukan hanya pada ranah akal, untung atau rugi sebuah pekerjaan. Dibalik itu, Novel mengaku religiusitas harus hadir dalam pekerjaan. Dirinya bersyukur sampai saat ini diberi kekuatan untuk tidak takut dalam segala hal.

Diakhir wawancara, NB mengatakan bahwa masih banyak orang yang berintegritas sebagai aparatur penegak hukum, entah itu di kepolisian atau di kejaksaan. Sekaligus dirinya juga menggarisbawahi, orang-orang yang berintegritas tersebut tidak boleh muncul karena faktor sistem dan lain-lain. 

Nah, setelah mengukur kecerdasan emosional sosok NB, yang tetap berkomitmen menjaga korps KPK bekerja melawan korupsi, apa kabar dengan NS yang ternyata mengakhiri kariernya di Metro TV dalam episode eksklusif terakhir bersama Novel Baswedan?

Tujuh belas tahun di dunia jurnalistik, termasuk kategori middle class dan tergolong orang yang kuat menyandang kode reporter 01 di sebuah stasiun TV. Namun, apakah karier NS tidak memiliki tempat yang bagus di Metro TV, atau sebaliknya tawaran lain yang lebih menggiurkan di dunia jurnalistik? Tentunya waktu sendiri yang akan menjawab. Salah satu media Antaranews yang berhasil mewancarai Presiden Direktur Suryopratomo, bahwa Najwa Shihab berhenti dengan alasan ingin fokus mengasuh anaknya yang kedua.  Tentunya publik berhak menilai apakah alasan tersebut tepat atau kurang tepat.

Penulis punya pertanyaan terbalik, apakah rasa tidak takut yang dimiliki Novel Baswedan akan sama dengan yang dimiliki oleh Najwa Shihab? Buat penulis, apapun yang dipilih antara Najwa dan Novel minimal telah membuka nalar, pikiran sekaligus kecerdasan emosional kita anak bangsa. Banyak duri dan kerikil tajam siap menghalau kalau kita tidak hati-hati. Kehati-hatian tersebut sudah dianugerahkan menjadi radar dalam diri kita, apakah kita mau mendengar atau tidak. Yang penting, satu pernyataan kunci dari Novel telah penulis catat dalam hati, seorang novel tidak menuntut kasusnya selesai oleh pihak berwajib. Tapi perlu diingat, manusia boleh merencanakan sesuatu, namun Tuhan berikan realisasi yang terbaik. Dan penulis yakin, Novel sedang menunggu momen itu, sambil tetap tersenyum melihat masa depan penegakan hukum di Indonesia.

 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook