Arah koalisi calon gubernur akan terlihat di Pilkada Jabar 2018. Gerindra masih bakal berkoalisi dengan PKS. Meski Gerindra kehilangan sosok Ridwan Kamil, sakit hati itu masih terasa di pihak Gerindra. Mirip-mirip dengan Ahok yang keluar dari Gerindra, saat awal menjabat Gubernur DKI.

Teka-teki calon gubernur Jawa Barat sedikit demi sedikit terungkap. Deddy Mizwar, selepas lebaran akan mendeklarasikan partai pengusung dirinya."Insya Allah setelah lebaran nanti ya. Kita belum tahu keputusannya seperti apa. Setelah lebaran, kita tunggu, terkait deklarasi dari partai apa dan siapa saja yang mendukung," tutur Deddy seperti dilansir dari laman pikiran-rakyat.com.

"Bisa juga nanti tidak menyebut nama sekali. Artinya partai tersebut akan deklarasi, terkait siapa yang akan dideklarasikan, wallahu a'lam, mungkin bisa saya atau yang lain," tutur Demiz sapaan akrab Deddy Mizwar.

Menurutnya, ada berapa kemungkinan 2 atau lebih partai yang mendukungnya. "Ada 2 atau tiga bahkan 6 partai," jelas Demiz.  

Deddy juga mengapresiasi hasil survei lembaga survei, beberapa hari yang lalu dia ditempatkan di posisi tiga besar. Demiz,  mengapresiasi partai-partai yang sudah vokal menyebut namanya. Di antaranya seperti PKS dan Gerindra.

Diakui dia, komunikasi dengan kedua partai tersebut tetap terjalin. "Komunikasi (PKS dan Gerindra) Alhamdulillah mesra-mesra saja," kata dia.

Namun,  Deddy kembali menegaskan, pihaknya akan melihat setelah lebaran nanti. Apakah dia akan dipinang atau tidak. "Iya setelah lebaran lah. Sekarang kita fokus ibadah. Ibadah saum, menjalankan tugas secara optimal, sehingga juga insyallah amalnya berlipat ganda." 

Meski Deddy Mizwar berada di nomor 2 dalam survei paling atas oleh lembaga survei Indo Barometer. Bisa saja nanti kenyataannya akan menggilas elektabilitas Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil.  Mengingat Deddy Mizwar diusung oleh partai pemenang pasangan Anies-Sandi dan kenyataannya mesin partainya bisa mengalahkan elektabilitas kinerja  Ahok-Djarot unggul dan dipilih responden, terkait kinerja bagusnya selama memimpin Jakarta. Namun kenyataannya, setelah isu digoreng sedemikian rupa, Ahok-Djarot kalah, meski sebelumnya unggul dalam survei. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook