Dalami ajaran masing-masing agama, dan gapailah makna-makna substansi, selesailah urusan masing-masing umat sekarang ini.

Gerak tari tradisional  dan iring-iringan gending Jawa syahdu menghibur para undangan dan hadirin. Gelar Budaya Perdamaian  di kampung Sawah pada sepuluh hari silam, berlangsung di GKJ Pondok Gede, disuarakan oleh kaum mayoritas. Gelaran kesenian dari berbagai suku di Indonesia ini menjadi perekat elemen bangsa. Saat mata menikmati gerakan, jiwa mencerna dan berbicara, 'inilah sajian budaya asli Indonesia' yang dianugerahkan Tuhan kepada rakyat Indonesia.  

Nyanyian lagu nasional dinyanyikan sahdu, menghilangkan sekat-sekat antar agama dan etnis yang selama ini menjadi bumbu politik. Satu rohaniawan yang membagikan ilmu perdamaian yakni Dimandita Nyoman Sudi Arsana, rohaniawan pengelola Wihara di TMII.

Menurutnya, gelaran acara ini jelas bakal menambah persaudaraan. Nilai-nilai persaudaraan inilah yang harus bisa dibawa dan disebarluaskan ke keluar. "Hal ini yang penting, dimanapun dan kapanpun, persaudaraan itu wujudkan sesuai dengan falsafah bangsa kita Indonesia. Melalui nilai ini kita bisa hidup rukun dan damai," cetusnya.

Lanjutnya, sebagai warga negara Indonesia, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika cukup sebagai ideologi bangsa kita.  "Melalui Mpu Sendok sebagai pendiri kerajaan Hindu, dan karya spektakuler  Kakawin Sutosoma karangan Mpu Prapanca, mereka adalah teknokrat nusantara dengan nilai-nilai spirtualnya mampu menelorkan nilai-nilai keluhuran, yang kemudian diadopsi oleh pendiri bangsa kita. Itulah nilai-nilai yang ada di bumi nusantara, kita lestarikan, ini akan mendorong kita untuk menjiwai bangsa kita," terang Sudi Arsana.

Nilai-nilai rasa tepo seliro (Jw. hormat menghormati) harus ditumbuhkembangkan kembali, jadi kita akan selalu menghargai orang lain dan disitulah makna persaudaraan. Dan ini secara implisit harus dilakukan oleh bangsa Indonesia. Ada hal-hal kecil yang menyangkut pelestarian pelaksanaan yang digariskan oleh bangsa kita di lapangan itu hal yang biasa seperti 1 Juni kemarin dalam memperingati Pancasila, guna menyemangati warga dalam mengemban Pancasila dan NKRI.

Dalam ajaran Hindu nilai-nilai yang mengerucut kepada toleransi itu mengerucut kepada 3 kata, Tak-Tuang-A-Shi yang artinya engkau adalah aku, dan aku adalah engkau. Pengertian harfiahnya, kalau saya mencubit anda dan rasanya sakit, implikasinya saya juga harus merasakan sakit itu. Artinya kalau yang dirasakan sakit, ada keinginan untuk tidak jadi mencubit. Itu ajaran paling simple, tak perlu penjelasan panjang ayat, akan membikin susah karena penalaran otak manusia tidak sama, karena ayat adalah bahasa wahyu.

Harapannya,  Saya kira sama dengan semua manusia di bumi Indonesia ini, Damai dan Kedamaian itu sendiri harus diciptakan. "Salah satunya dengan membawa misi gelar budaya perdamaian ini, kita sampaikan pesan spiritual ini keluar daerah masing-masing. Jangan sampai ketika sampai dirumah hilang lagi ruh perdamaian dan persaudaraan itu," harap Sudi Arsana.

Diakhir pembicaraan, Nyoman Sudi Arsana menambahkan,  tidak ada yang salah dalam praktik kehidupan beragama saat ini. Yang penting dalami keyakinan itu, kemudian amalkan keyakinan itu, sehingga mampu menjadi contoh dalam mengamalkan keyakinan itu dalam koridor kehendak ilahi, karena di kitab suci-lah yang menampung nilai-nilai Ilahi Ketuhanan.

Koridor ini yang mungkin hilang dari kita, karena keyakinan tidak lagi membutuhkan ranah otak, melainkan ranah batin dalam mengejawantahkan nilai keyakinan tersebut. Hasil oleh ranah batin akan menghasilkan rasa, dan rasa akan membuahkan tepo saliro (tenggang rasa). Nilai ini yang menjadi  contoh diri sendiri kepada orang lain menurut ajaran yang dianut masing-masing dengan baik dan benar. Makanya dalami ajaran masing-masing agama, dan gapailah makna-makna substansi, selesailah urusan masing-masing umat sekarang ini. Amin.

Diakhir acara, empat tokoh dari lintas agama berdiri di altar gereja. Mereka berdoa mengajak para jemaat untuk merenungkan dan menghadirkan kembali nilai kemanusiaan yang sempat hilang. Kehadirat Tuhan yang Maha Esa, masing-masing rohaniawan berdoa dengan cara masing-masing agamanya. Diakhir acara, seorang pastur kemudian saling membagikan api untuk menyalakan lilin perdamaian. Dalam suasana gelap tanpa penerangan, lewat tangan rohaniawan kemudian api menyala dari lilin-lilin tersebut disebarkan satu persatu kepada jemaat yang hadir, menambah kesyahduan dan kesakralan serta semangat perdamaian yang telah lama bersemayam dalam sanubari ibu pertiwi nusantara. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook