Siapa sangka bahwa di antara jutaan pejuang, ada segelintir wanita pekerja seks yang turut berperan.

Adalah Moestopo, seorang kolonel imajinatif yang memanfaatkan para pekerja seks untuk membantu prajurit pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Ya, siapa sangka bahwa di antara jutaan pejuang, ada segelintir wanita pekerja seks yang turut berperan.

Moestopo sebelumnya terlibat dalam front pertempuran Surabaya dan ditarik ke front barat sekitar Bandung. Para wanita tunasusila punya jasa membantu pejuang mendapatkan perkakas revolusi. Mereka adalah jaringan lama dari orang yang tergabung dalam Laskar Rakjat Djakarta Raja ketika tentara Sekutu, yakni Inggris, berada di Jakarta.

Para wanita pekerja seks ini juga pernah menolong ketika Sukarno masih di Bandung dan belum dibuang. Artinya, peran mereka juga bukan merupakan hal baru ketika masa revolusi.

Moestopo membuat unit tak bersenjata yang terdiri dari pelacur dan pencopet ketika pertengahan tahun 1946. Saat itu, tentara Belanda mulai menguat. Unit tak bersenjata yang dinamakan pasukan Terate tersebut membuat kekacauan dan kebingungan di kalangan serdadu Belanda. Tak hanya itu, para wanita pekerja seks bisa menjadi mata-mata bagi Republik.

Mosetopo juga menciptakan ketakutan bagi para serdadu kesepian akan penyakit kelamin yang dibawa wanita pekerja seks tersebut. Namun nahas, pada akhirnya prajurit pendukung Republik justru ikut terkena getahnya dan terjangkit wabah kotor.

Sumber: Tirto

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook