Kerjasama Tiongkok dengan Indonesia semakin baik. Kali ini China Development Bank (CBD) sebagai bank pemberi modal investasi proyek tersebut, akan memperkokoh posisinya dengan mendirikan kantor perwakilan di Indonesia.

Kerjasama antara Indonesia dengan Tiongkok semakin erat tatkala proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya berhasil dikerjasamakan kedua negara. Sebagai kelanjutannya, pemerintah Tiongkok melalui China Development Bank (CBD) berencana akan membuka kantor perwakilan di Indonesia. Langkah tersebut telah ditindaklanjuti oleh pemerintah mempertemukan CBD dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

CBD sebagai lembaga keuangan telah memfasilitasi pinjaman Tiongkok untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurut penuturan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, prioritas CBD dipilih karena mata uang Tiongkok paling murah dibanding investor lain, bunganya hanya 2%. Kerjasama proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya membutuhkan biaya hingga US$5,1 miliar  atau setara dengan Rp67,8 triliun (kurs Rp13.300). 

Posisi Indonesia sangat diuntungkan dalam proyek ini, karena pemerintah hanya menyiapkan regulasinya saja, tanpa harus mengeluarkan modal. Pihak CDB-lah yang menanggung pinjaman senilai 75% dari total investasi. Sedangkan sisanya 25% berasal dari modal konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). 

Sedangkan menurut Gubernur BI Agus Martowardjoyo, pemerintah mendukung dan memfasilitasi lembaga keuangan asing untuk membuat kantor perwakilan di Indonesia. Dalam hal ini CDB, yang akan melakukan pembiayaan proyek kereta cepat, lebih mudah untuk melakukan kegiatan pencairan dana kepada perusahaan pelaksana. Secara administratif lebih simpel dan  tetap proses pengerjaan proyek juga mudah dilakukan pengawasan pemerintah. 

Sebelumnya pemerintah telah memfasilitasi berdirinya PT. XD Sakti Indonesia yang merupakan joint venture antara BUMD XD Group China dengan Central Cipta Murdaya (CCM). Proyek investasinya mencapai US$80 juta untuk memproduksi trafo, tansmisi hingga kabel dengan kapasitas produksi mencapai 10.896 MVA setiap tahunnya. Kerjasama tersebut menjadikan Indonesia menjadi negara produsen transformator tenaga terbesar di Asia Tenggara. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook