Menyimak arah pembicaraan kelompok pembela HTI dan FPI rasa sungguh memuakkan, mereka menghirup udara dan fasilitas negara di Indonesia tapi justru ingin merobohkan rumah sendiri. Padahal jumlah mereka tidak mayoritas tapi memaksa mayoritas untuk mengikuti dan memaklumi pendapat dan kehendak mereka.

Guntur Romly di ILC TV One, 18 Juli 2017  mengatakan Perppu Ormas adalah cara melindungi rumah kita (Indonesia) dari ormas – ormas yang ingin mengganti dasar negara Indonesia, Pancasila dan UUD 1945.  Inilah logika   pembenaran Romly  langkah  dari pemerintah.

Lain lagi Munarman, praktisi hukum FPI, pembela buronan polisi ini  menyikapi Perppu Ormas sebagai ketidakbecusan aparat hukum, karena mencampur adukan hukum pidana, perdata. Dia menghimbau agar pemerintah mencabut kembali Perppu Ormas tersebut. Nggak jelas apa maksudnya.

Teuku Zulkarnaen. Ustadz kontroversial lebih tidak masuk akal lagi, menggunakan pendekatan Hukum Syariah untuk menyikapi Perppu Ormas. Sepertinya Teuku Zulkarnaen ini orang sedang “amnesia” atau pura – pura, kalau Indonesia bukan negara agama (Theokrasi) tapi negara sekuler. Tidak pada tempatnya mengkritisi Perppu Ormas dari sisi Hukum Syariah, tapi dari substansi pembicaraan selama di ILC Ustadz yang suka nge-twit asal ini membela Hizbut Tahir Indonesia (HTI).

Sudah diketahui umum bahwa HTI adalah ormas yang manifes politiknya jelas – jelas ingin mendirikan negara dalam versi HTI, sama halnya dengan ISIS, dan FPI  dengan NKRI Syariah. Istilah – istilah tersebut barangkali buat awam kurang dipahami, padahal maknanya adalah mengganti dasar negara Indonesia hasil konsensus dengan ideologi baru.  Apa bedanya dengan ideologi Komunis yang bercita – cita sama, cuma asasnya saja berbeda.

HTI  pada manifest politiknya jelas melakukan kebohongan publik, mengaku diri sebagai ormas tapimengikrarkan sebagai partai politik seperti di website resmi mereka.

1 – Hizbut Tahrir adalah partai politik berideologikan Islam, beraktivitas untuk memulai kembali cara hidupIslam, menempuh metode syar’iy dalam pendirian negara Khilafah, dan berdasarkan pada amal (aktivitas) Rasulullah Saw.

Anehnya lagi, HTI menolak nasionalisme dan isme-isme lainnya tapi mereka hidup dan menghidupi dirinya di dalam negara yang mereka benci seperti di Indonesia dan negara – negara  Eropa yang memberikan ruang kebebasan.Pernyataan penolakan itu tertuang juga  di pernyataan HTI di website resminya, https://hizbut-tahrir.or.id.

7 – Hizbut Tahrir memiliki sikapyang jelas dan gamblang berdasarkan pandangan syara’ dalam menghukumi pemahamandan keyakinan, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negerisendiri, seperti sekularisme, nasionalisme, demokrasi dan pemahaman lainnya,semisal sosialisme, kapitalisme dan kedaulatan milik rakyat bukan milik syara’.Semua itu merupakan pemahaman (konsep) berbahaya yang sama sekali ditolak olehIslam.

 Pernyataan HTI Indonesia ini sungguh amat lucu, seolah mereka selama ini hidup di negeri awang – awang, HTI Internasional saja bisa eksis hanya di negara Kafir, negara –negara Eropa dan AS.  Di Turki, Yordaniadan sejumlah negara Arab dan Mesir menolak kehadiran HT.

8 – Hizbut Tahrir tidak menerimabantuan dari negara kafir manapun, juga dari rezim boneka negara asing manapun,bahkan Hizbut Tahrir berusaha untuk menghancurkan entitas yang dibuat oleh kaumkafir Barat ini, dimana dengannya kaum kafir Barat telah mencerai-beraikanpersatuan umat Islam.

Entah apa  yang adadalam otak aktifis HTI  dan HTInternasional begitu “keblinger” dengan ideologi Khilafah meski ditolak dinegara tempat gerakan HT lahir , yaitu Yordania.

Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SumberDaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengatakan HTI hakekatnya gerakanpolitik tapi berkedok gerakan keagamaan. Lah...gitu kok ya masih ngeles !

Rumadi menilai HTIadalah gerakan politik, namun memiliki kelihaian agar terlihat seperti ormaskeagamaan.

"HTI ini saya lihat bukan gerakan keagamaan,tapi gerakan politik yang secara ideologis bertentangan dengan dasar negara.Kelihaian HTI adalah menggunakan gerakan politik namun dibungkus dengan isukeagamaan," kata Rumadi. BBC Indonesia

 Berikut bantahan HTI atas tuduhan tidak memiliki komitmen Kebangsaan dan Nasionalisme, seperti biasa Ismail Yunanto, juru bicara HTI “ngeles”dengan mengalihkan ke substansi lain.

Video bantahan HTI :

https://youtu.be/QieD0s7zGsA

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook