Desain pesawat dengan kabin terluas dikelasnya, dirancang serba guna untuk berbagai macam kebutuhan seperti untuk pengkutan barang, evakuasi medis, pengangkutan penumpang bahkan pengangkutan pasukan. N219 lulus ujicoba perdana di bandara Husein Sastranegara.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-72 tahun, rasanya angka tujuh puluh dua tahun ini terdengar spesial, dengan kelahiran pesawat N219 hasil kerjasama PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Sebelumnya PT DI telah memproduksi N250 dan diujicobakan pada tahun 1995. Ada jeda 12 tahun publik sebagai warga Indonesia menunggu kebangkitan pesawat produksi anak bangsa. 

Kelahirannya cukup menggembirakan dan uji coba pesawatpun berhasil diterbangkan selama 10 menit oleh Captain Esther Gayatri Saleh di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat N219 memang dirancang dan desain cukup murah, sesuai dengan anggaran pemerintah yang dianggarkan mencapai Rp827 miliar. Di era tiga tahun pemerintahan Jokowi tepatnya 2017, ujicoba N219 menjadi momentum kebangkitan riset dan teknologi Indonesia.

Jumlah penumpangnya hanya 19 orang, namun menyasar pasar dengan rute penerbangan perintis di dalam dan luar negeri. Ceruk pasarnya tergolong cukup besar, tipe yang sejenis jumlahnya 500 unit di seluruh dunia.Kelahiran N219 ini akan head to head dengan beberapa merek dunia seperti de Havilland DHC-3 Otter, DHC-6 Twin Otter, Antonov An-28, Britten Norman Trislander, atau CASA N-212 Aviocar. 

Kelahiran N219 banyak diharapkan oleh banyak kalangan. Selain itu, akan dikembangkan tidak hanya sebatas protype saja. Karena termasuk pesawat perintis, N219 bakal dikembangkan sebagai pesawat amphibi, agar bisa mendarat di pulau kecil.

Secara spesifikasi, pesawat N219 menggunakan mesin engine Pratt and Whitney PT6A-52, dengan kecepatan 859 shp dan daya jelajah 1580 NM. Beberapa keunggulan yang dimiliki antara lain, kemampuan short take of landing, teknologi yang murah dan tersedia di pasar, menggunakan Garmin G-1000 dengan flight management system dan sejumlah teknologi lain seperti warning system ketika mendekati wilayah perbukitan. Dilengkapi dengan kabin yang luas dan multihop capability fuel tank.

Jika melihat spesifikasi teknisnya memang cukup membanggakan. Tinggal bagaimana upaya pemerintah agar proses kedepannya dapat mendapatkan sertifikasi dari FAA, Amerika Serikat. Setelah itu, baru ditingkatkan untuk keperluan produksi dan bagaimana pemasarannya dan sustainable di pasar. Publik berharap nasib N219, tidak seperti pendahulunya N250, yang mangkrak di hangar PT DI. Banyak harapan  agar nasibnya bakal seperti panser Anoa, buatan PT Pindad yang banyak digunakan oleh negara lain di belahan dunia. Nah, langkah ini harus dipertimbangkan secara matang, agar publik mengetahui dan merasakan langsung kehebatan pesawat buatan anak bangsa. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook