Kedekatan idiologi dan cara memperjuangkan kemakmuran, adalah dua hal yang menjadi tolok ukur DPW PKB Jakarta merapat kepada pasangan Ahok-Djarot. Kedua pasangan ini mendapat dukungan penuh dari partai yang memiliki basic massa dari warga Nahdliyin.

Genetik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai partai terbuka, akhirnya memutuskan untuk merapatkan pilihan kepada Ahok-Djarot. Meski awalnya PKB DKI telah menarik dukungan dari Ahok-Djarot, dan pada putaran pertama Pilkada DKI mendukung pasangan calon Agus-Silvi. Kali ini PKB mempertimbangkan Djarot Saiful Hidayat, sebagai warga yang besar dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Perihal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKB DKI, Hasbiallah Ilyas  saat mendampingi Djarot blusukan ke warga Sentra Timur Pulogebang, Jakarta Timur pada 4 April 2017.

Hasbi menjelaskan, bahwa kedekatannya dengan Djarot Saiful Hidayat telah berlangsung lama. "Beliau ini tokoh kita, Insya Allah saya yakin bahwa beliau ini orang NU, sama dengan kita. Sama-sama merakyat," tutur Hasbi dilansir dari viva.co.id.

Dalam kesempatan tersebut, Djarot membenarkan apa yang telah dituturkan oleh Hasbiallah Ilyas. Menurut Djarot, dirinya memang dibesarkan dalam keluarga Nahdliyin. Djarot berharap kepada masyarakat Jakarta untuk tidak salah mengenal dirinya dan latar belakangnya.

Dukungan kepada Ahok Djarot juga dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor. Hari ini 7/4/2017, Ahok Djarot mendatangi kantor Gerakan Pemuda Ansor di jalan Kramat Raya, Jakpus.

Dalam pertemuan ini juga dihari oleh Sekjen Partai Golkar Idurs Marham dan Jubir Tim Pemenangan Juli Antoni. Kedatangan paslon nomor urut 2 ini sebagai upaya silaturrahmi dengan organisasi yang terhubung dengan Nahdlatul Ulama itu. 

Kedatangan mereka disambut oleh Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas dan anggota DPRD DKI PKB Abdul Aziz. Djarot sangat antusias dengan gerakan Anshor yang selama ini telah menjunjung tinggi nilai idiologi Pancasila dalam bernegara. Djarot selama ini menggunakan jargon PBNU, kepada warga muslim moderat. "Huruf P mewakili Pancasila, huruf B mewakili Bhinneka Tunggal Ika, N mewakili NKRI dan U mewakili UUD 45," tutur Djarot. 

"Kami sangat menolak calon gubernur yang didukung Islam radikal dan Islam garis keras. Sedangkan Ansor dihina dari zaman Presiden Gus Dur  sudah biasa. Dibilang kafir, munafik sudah biasa. Tapi kalau sudah merusak tatanan NKRI dan demokrasi, pasti akan kami lawan," kata Azis.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook