Malam ke-16 Ramadhan menjadi suatu yang istimewa. Penulis berbuka bersama dengan umat lintas Agama di GKJ Pondok Gede. Ada nikmat tersembunyi dalam batin, dibalik kegelisahan jiwa atas titah NKRI menerima keberagaman umat, etnis dan agama. Spirit ini menjadi dahaga warga Indonesia, disaat kedamaian pluralitas mulia terancam.

Situasi  bangsa yang penuh isu dan dugaan tindakan yang mengarah pada perpecahan bangsa, membuat warga Kampung Sawah Bekasi, Jawa Barat terpanggil menyerukan suara perdamaian guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Masyarakat Kampung Sawah, Jati Murni, Bekasi, terdeteksi sebagai kawasan percontohan kerukunan umat beragama. Sebagai langkah memahami keberanekaragaman suku bangsa dan agama, pihak pengurus Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ)  Klasis Jakarta Bagian Timur sebagai tuan rumah acara bertajuk Gelar Budaya Perdamaian (Gelar Budaya Perdaimaian) yang menampilkan pementasan drama musikal bertema keberagaman Indonesia. Gelaran acara yang melibatkan undangan lintas agama tersebut, dikerjasamakan dengan Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKWD) dan Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB).

Serangkaian aksi seni diperagakan di GKJ Pondok Gede pada Sabtu sore 10 Juni 2017. Lewat aksi-aksi teatrikal, seni tari, seni musik tradisional seperti kecapi, angklung, kolintang, marawis dan kesenian barongsai. Berbekal spirit lintas agama, lintas budaya, gelaran budaya perdamaian ini dipentaskan oleh mahasiswa dari Fakultas Teologia UKDW.

Melalui acara ini dimaksudkan untuk menularkan pesan kedamaian kepada semua elemen bangsa Indonesia. Mereka para undangan yang berlatar belakang multi agama bisa duduk bersama rukun memperkuat nilai persatuan dan kesatuan. 

"Kali pertama acara ini Kami kemas sekreatif mungkin, sekaligus menjadi simbol kreativitas warga Kampung Sawah  dalam  hal ini Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) Jakarta Klasis Bagian Timur bekerjasama dengan Fak. Theologia UKDW dan WKPUB. Tujuannya sebagai sarana pengingat pentingnya saling menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta menjaga anugerah Bhinneka Tunggal Ika. Kami berharap, jika diterima oleh masyarakat luas, rencananya akan dilanjutkan di tahun mendatang," tutur Rianda Baskoro, Ketua Majelis GKJ Pondok Gede.

Format tahun sebelumnya berupa festival gending gereja, dan pesertanya terbatas dari kalangan gereja saja. Menurut Rianda, ini menjadi spirit untuk memperkuat kembali nilai kebhinnekaan, guna memangkas konflik yang selama ini menggunakan isu SARA dan sentimen agama.

Sedangkan menurut Ketua Panitia Gelar Budaya Perdamaian, Eko Novi Firmanto menyampaikan ajakan koreksi diri pada nilai kebangsaan kita."Kenyataan yang terjadi sekarang ini kata Bhinneka Tunggal Ika hanya berhenti di lambang negara saja. Prakteknya jauh dari teori yang dirumuskan pendiri bangsa. Sebagian masyarakat masih banyak yang melontarkan kalimat 'kamu siapa ?' kepada pihak marginal. Dampaknya, perbedaan  bukan suatu penyemangat nasionalisme malah sebaliknya. Nilai-nilai positif itu menjadi gugahan bagi kita untuk berinstropeksi diri," jelas Eko Novi Firmanto kepada Publik.id.

Harapannya kegelisahan, keprihatinan kita terhadap kondisi bangsa bisa kita hapus melalui kegiatan positif kali ini. Selanjutnya berangkat dari contoh kecil keberagaman multi agama di Kampung Sawah ini bisa meminimalisir disintegrasi umat manusia yang plural ini. Masing-masing jemaat yang hadir disini akan berdoa kepada Tuhannya, agar kegelisahan akan terjadi konflik antar agama tidak akan terjadi. Nilai sprit persatuan dan kearifan  akan perbedaan ini digetoktularkan kepada masyarakat lain di lingkungan yang berbeda.

Ketika negara lain sedang belajar menerapkan 'Unity in Diversity' di negerinya sendiri, Indonesia sudah jauh memiliki dan menerapkan Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaaan tidak perlu dipertajam, akan tetapi harus diolah sebagai pos-pos yang menularkan kebaikan dan kebajikan. Langkah paling kecil ketika kita membaca berita kecil di sosial media, pasti jiwa kita akan bertanya kepada Tuhan, apa benar hal itu, jika benar kami meminta pertolonganmu agar bangsa ini dijaga.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook