Dua lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Litbang Kompas sama-sama menggunakan metode wawancara dalam surveinya. Bedanya wawancara responden saat debat Pilkada pada dua momen yang berbeda, pertama debat Pilkada di Mata Najwa oleh SMRC dan kedua Final debat Pilkada oleh KPU.

Penulis menggarisbawahi pembahasan dua hasil lembaga survei antara SMRC dan Litbang Kompas hanya dalam beberapa pembahasan yang paling menarik menurut versi penulis. Salah satunya debat tentang cara penggunaan anggaran. Berdasarkan hasil final debat Pilkada oleh KPU, Sirojuddin Abbas, dari SMRC menggarisbawahi efek dari bahasan tersebut. Menurutnya, banyak hal yang bisa dibelajari basic masing-masing paslon, terutama Sandi lebih pada pengalaman privat sektor, dan Djarot lebih pada kultur anggaran pemerintan. 

Pengalaman privat sektor yang dibawa Sandi dalam perusahaannya cukup berbeda dengan  pola delivery kemakmuran masyarakat yang dijalankan Ahok-Djarot. Pada privat sektor tidak mengandung political budget, sedangkan kultur pemerintah sarat akan kepentingan berbagai pihak.  Pembahasan ini menjadi penilaian tersendiri terhadap audiens yang melihat langsung acara debat tersebut.

Pada final debat Pilkada DKI final 12 April kemarin, terlihat Ahok-Djarot mempertanyakan perihal penguasaan masalah dalam pengelolaan anggaran birokrasi dengan pengelolaan anggaran perusahaan. Ciri yang terlihat pada privat sektor lebih pada berbasis maximalizing profit, sedangkan dalam pengelolaan anggaran pemerintah lebih pada tujuan peningkatan kualitas hidup dan kemakmuran rakyat, berjalannnya pemerintahan dan konsolidasi politik di sekitar, harus dijaga dengan hati-hati. Abbas menyarankan, agar paslon benar-benar menjaga rambu-rambu ini. Dengan mempunyai arah dan tujuan yang jelas, minimal akan meminimalisir program yang mubazir dan berakibat pada korupsi.

Pada sesi pertanyaan dari komunitas masyarakat, ada kesan pertanyaan menyerang pada calon gubernur petahana, namun indikasi tersebut ditolak oleh Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas. Menurutnya, pertanyaan tersebut tidak mengandung jebakan, malah lebih mengeksplore kemampuan setiap paslon dalam membangun program dengan prioritas jangka pendek untuk komunitas masyarakat tersebut. Tentunya janji tersebut minimal dikembangkan oleh gubernur yang memenangkan pilgub nanti.

Dalam mengukur elektabilitas kedua pasangan calon gubernur. Abbas mengungkapkan terjadi penurunan dukungan kepada Anis-Sandi. Berdasar data SMRC prosentase penurunan tersebut dalam kurun 2 minggu terakhir sekitar 2,8%. Sementara dukunga Ahok-Djarot naik sekitar 3,1%. 

Menurut Abbas, fenomena paradoks ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Antara lain :

a. Momen Debat Pilkada di Metrotv, cukup menaikkan elektabilitas Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Jadi Ahok-Djarot diuntungkan dalam momen ini.

b. Faktor kinerja Ahok-Djarot yang konsisten meningkat. Data SMRC menunjukkan 76% cukup puas atas kinerja gubernur petahana ini. Publik menilai bahwa kinerja Ahok-Djarot sesuai dengan ekspektasi publik pada umumnya.

Data SMRC tersebut dibuat sebelum debat Pilkada oleh KPU di Hotel Bidakara 12/4/2017. 

Namun saat debat berlangsung, litbang Kompas juga melakukan polling terkait penampilan paslon dalam debat tersebut. Dari hasil polling ini ditampilkan dalam grafik dari skala 1 sampai 10. Paslon Ahok-Djarot mendapat 7,72 dalam penguasaan masalah, sedangkan Anies-Sandi mendapat 6,90. Sedangkan terkait pembahasan program kerja, Ahok Djarot mendapat poin 8,04 dan Anies-Sandi mendapat  6,71. Secara keseluruhan Ahok-Djarot mendapat 8,13 sedangkan Anies-Sandi mendapat 7,27.

Pihak litbang Kompas juga menilai bahwa 10,18% responden mengungkapkan masih mungkin mengubah pilihan saat debat final Pilkada kemarin. Prosentase 80,84% tidak akan mengubah pilihan, sedangkan responden dengan 5,99% menyatakan ragu-ragu dan 2,99% responden tidak menjawab atau merahasiakan pilihannya.

Metode polling dilakukan dengan wawancara via telepon, yang melibatkan 167 responden yang diacak secara proporsional berdasar wilayah se-DKI Jakarta, yaitu yang berdomisili di Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Tingkat kepercayaan metode ini 95%, dengan nirpencuplikan penelitian 7,55%. Data ini dilansir dari Kompas.com pada 13/4/2017.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook