Cadangan gas alam yang melimpah membuat, pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina, yang saling bahu-membahu mewujudkan cita- cita proyek strategis nasional. Salah satunya menuju 1,2 juta sambungan gas pada 2019, untuk konsumsi rumah tangga. Langkah ini dipilih untuk menekan subsidi pada LPG 3 kg sebesar Rp28,9 triliun untuk tahun 2017.

Penggunaan LPG Gas 3 kg saat itu menjadi solusi pemerintah, untuk mengurangi penggunaan minyak tanah yang menjadi menyedot subsidi negara yang terlalu besar, terutama saat harga minyak tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, Pertamina telah melakukan terobosan menggunakan jaringan gas (jargas) untuk konsumsi sebuah kota. Kemudian dikenal dengan city gas, dikenalkan sejak 2009 sampai tahun 2015 kemarin, penggunaan jargas ternyata cukup efektif, dalam menekan angka subsidi pada LPG 3kg pada APBN.

Rupanya keuntungan penggunaan jargas pada sebuah kota, mulai dikejar pemerintah Jokowi, karena harga minyak yang turun, lantas tidak mengembalikan opini untuk kembali menggunakan minyak tanah. Sebaliknya, pemerintah Jokowi telah mempersiapkan pembangunan jaringan gas di beberapa kota yang telah memiliki sumber gas. Ternyata untuk produksi LPG 3kg, Indonesia masih harus impor. Saat ini, produksi gas nasional Indonesia masih diangka 3,2 juta metrik ton. Padahal, kebutuhan nasionalnya mencapai 7,2 juta metrik ton. Alokasi produksi yang kurang tersebut untuk harga LPG 3kg dipasar, pemerintah masih mensubsidi harga sebesar Rp3.995. Angka ini diperoleh dari harga patokan Rp7.459 dikurangi harga jual eceran Rp3.463, sebagaimana yang ditetapkan pemerintah.

Berapa sih subsidi yang diberikan pemerintah pada LPG 3kg selama tahun 2017, proyeksinya mencapai Rp28,90 triliun. Ternyata besar juga ya. Untuk itulah, kementerian ESDM sedang menggiatkan penggunaan jargas di tempat yang potensial dan memiliki jaringan gas bumi tersendiri. Jumlah jaringan gas yang telah eksisting mencapai 91.680 sambungan rumah, dibeberapa kabupaten seperti Prabumilih, Sengkang, Jambi, Sidoarjo, Bulungan, Bekasi, Lhokseumawe, Lhoksukon, Jambi dan Cilegon. Sedangkan untuk tahun 2017, pengembangan jaringan gas di beberapa seperti Mojokerto, Bontang, Pali, Muara Enim, Samarinda dan Pekanbaru. Total jaringan yang akan dibangun 31.031 sambungan rumah.Total keseluruhan mencapai 130.388 ribu sambungan rumah, dengan menggunakan dana APBN. 

Apakah mubazir, membangun investasi tersebut dengan menggunakan APBN. Alimuddin Baso, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, menyampaikan jaringan gas ini diharapkan mampu bertahan 50 tahun. Dengan gambaran 100 ribu jaringan gas akan menghabiskan dana sebesar Rp1 triliun. Jika dikalkulasi kebutuhan 2021 sebanyak 210 ribu jargas di nusantara, maka total kebutuhan membangun infrastruktur mencapai Rp21 triliun.

Menurutnya secara teknis pembangunan jaringan gas ini dilakukan oleh Pertamina, dengan beberapa ketentuan pertama, mendorong proyek strategis nasional melalui jaringan gas, dan penggunaan tanki BBM. Saat ini tugas tersebut telah dilaksanakan oleh PT Pertamina. Kedua, Pemerintah memiliki fungsi regulasi dan supervisi. Pelaksanaan program ini dengan menggandeng pihak lain seperti pihak KAI agar sebisa mungkin penggunaan lahan untuk implementasi proyek menjadi nol rupiah. 

Ketiga, Pemerintah Daerah yang menerima proyek strategis nasional harusnya mampu menjadi pioner, pelaksanaan proyek ini. Contoh di Prabumulih, Tarakan dan Surabaya yang telah mengimplementasikan hal ini, sehingga pelaksanaan proyek tanpa bayar atau sewa tempat. Jadi tidak ada lagi alasan belum ada izin atau sebagainya. Proyek strategis nasional harus direduksi secara cepat oleh stakeholders. 

Pelaksanaan proyek jaringan gas 2017 akan dilakukan pembangunan 31 ribu jaringan sambungan rumah. Sampai sekarang belum bisa dipastikan pengerjaannya selesai karena baru lelang baru dimulai bulan April 2017. Untuk mencapai target butuh terobosan-terobosan bagi Pertamina dan korporasi meski dengan anggaran pelaksanaan yang dipotong. Artinya langkah ini tidak hanya mengandalkan cara konvensional, harus ada inovasi bagi Pertamina dan korporasi dibawahnya. 

Selain menguntungkan negara, dengan mengekplorasi gas alam dari dalam negeri, tentu berdampak mengurangi impor untuk LPG. Beberapa keuntungan lain dijelaskan oleh Linda Sunarti, Presiden Direktur Pertagas Niaga, salah satunya harga beli konsumen yang murah. Harga city gas per meter kubik (m3) hanya Rp4.500 rupiah. Untuk 4m3 City Gas dihargai Rp18.000. Hanya terpaut tipis dengan eceran LPG 3KG seharga Rp20.000-23.000. Jika dibandingkan dengan LPG 12 kg yang mencapai Rp130 ribu, akan sebanding dengan penggunaan city gas 16m3 dengan harga hanya Rp72.000. Range harga yang tinggi ini perlu untuk segera disosialisasikan kepada masyarakat, agar mampu berhemat dalam penggunaan BBG. Disisi lain akan menghemat subsidi negara terhadap energi. 

Head to head kelebihan City Gas dibandingkan dengan penggunaan tabung gas LPG 3 kg antara lain :

1. Aliran gas 24 jam

2. Praktis dan aman, karena tekanan gas rendah

3. Hemat dan efisien

4. Mengurangi konsumsi LPG 3 kg  bersubsidi. Sampai saat ini dari 2009-2014 telah terinstal 130.880 sambungan rumah, yang mampu mengurangi konsumsi sebesar 14.135 metrik ton LPG per tahun.

5. Memanfaatkan potensi gas bumi Indonesia. 

Sedangkan kekurangan City Gas antara lain : 

1. Pengembangan Jaringan Gas atau City Gas ini berbasis sumber gas yang ada pada kota tersebut. Jika suatu waktu \terjadi kendala, maka kendalanya masyarakat satu kota tidak dapat mendapatkan akses, karena tidak ada backup sumber gas.

2. Panjangnya pipa instalasi milik BUMN sampai ke rumah tangga, dibeberapa tempat di luar Jawa, menjadikan risiko losses gas sampai 45%, terkait pencurian atau kerusakan infrastruktur.

3. Perawatan aset yang cukup rendah oleh masyarakat, mengakibatkan pipa distribusi pecah.

4. Pola tagihan gas kota masih cukup rendah. Sistem pembayaran awalnya postpaid, namun masyarakat tidak sadar untuk membayar. Saat ini di Prabumulih, pihak Pertamina telah melakukan inovasi dengan menggunakan prepaid meter berbasis token di kota Prabumulih.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook