Pertarungan Polemik Kebudayaan saat itu boleh dibilang dimenangkan oleh Sutan Takdir Alisahbana. Karena dr Sutomo tiba-tiba meninggal tahun 1938. Arah pendidikan nasional menjadi berkiblat pada pendidikan Barat yang diperjuangkan modernitas. Sayangnya, yang terjadi mentalitas bangsa inferior. Melalui tulisan ini, kita mengguggah seluruh elemen bangsa untuk memperjuangkan nilai-nilai dr Sutomo, sebagai pelopor kebangkitan bangsa.

dr. Sutomo terlahir dari pasangan Raden Suwaji, Soedarmi Soewadjipoetro. Ayahnya bagian dari pejuang pasukan Diponegoro

dr. Sutomo terlahir dari  pasangan Raden Suwaji, Soedarmi Soewadjipoetro. Ayahnya bagian dari pejuang pasukan Diponegoro

Narasumber kali ini KH. Ngabehi Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi (Lembaga Seniman Kebudayaan Muslimin Indonesia) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dua bulan yang lalu redaksi berkunjung ke rumah beliau di Kawasan Mendit, Pakis, Malang Jawa Timur.  Dari penelitian-penelitian naskah kuno, pergulatannya selama menjadi wartawan, hingga merumuskan bersama pakar, pentingnya mengangkat Islam Nusantara di Era Presiden Jokowi. 

Presiden Jokowi pun menyetujui pembangunan monumen Islam Nusantara, sebagai wujud dari tradisi nenek moyang yang terlahir sebagai bangsa superior di wilayah maritim. Saat ini Romo Agus Sunyoto sedang merampungkan penelitian 14000 naskah kuno nusantara. Tujuannya untuk membangun kembali kepribadian bangsa sebagai bangsa superior dan bukan bangsa yang inferior.  Wawancara ini akhirnya baru penulis angkat, karena memiliki timing yang tepat, karena besok bangsa Indonesia memperingati hari Kebangkitan Nasional yang diikrarkan oleh Dr. Sutomo dkk, sebagai organisasi pribumi melawan kolonialisme. 


1.  Apa yang harus dipersiapkan bangsa Indonesia menyambut 100 tahun?

Jika dilihat dari aspek kesejarahan, peradaban nusantara ini peradaban yang sangat tua. Selama ribuan tahun, Indonesia berada di antara dua imperium besar, yakni imperium Tiongkok dan imperium India. Selama kurun waktu tersebut tidak wilayah Nusantara tidak pernah dikuasai oleh kedua imperium tersebut, dengan adanya beberapa kerajaan di nusantara dan imperium mereka sendiri.

Indonesia baru jatuh saat kolonialisme Eropa datang ke Nusantara, terutama saat perang Diponegoro 1825-1830. Saat itu orang kulit putih memposisikan sebagai warga negara kelas utama, Penduduk Timur Asing Tiongkok, India, Arab sebagai warga negara kelas dua dan warga pribumi (inlander) sebagai warga negara kelas tiga.

Perlakuan barat kepada warga pribumi sangat sewenang-wenang, dengan menerapkan Hukum Pidana sendiri menterjemahkan KUHP terbitan Belanda bernama Hierzien Inlandsch Reglement (HIR), warga pribumi diadili dengan pengadilan tersendiri yang dikenal sebagai Landraad. Dibidang pendidikan, pribumi juga diberi kelas pendidikan yang rendah, dengan kurikulum dari Belanda. Dan ini telah berlangsung ratusan tahun, sehingga mentalitas warga negara Indonesia, menjadi mentalitas inlander.

Ciri-ciri yang terlihat, warga Indonesia menganggap golongan kulit putih sebagai golongan superior,  sebaliknya warga pribumi diposisikan sebagai inferior (mutu rendah). Kacung, kuli, jongos, kampret saat itu melekat erat untuk anak warga pribumi. Ini mengakar kuat dalam karakter warga negara Indonesia. Tahun 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka bisa dibilang kemerdekaan politis saja, karena jiwa dan pikiran warga kita masih tetap inlander. 

Lima sistem pendidikan asli nusantara saat itu ada Asrama, Padepokan, Dukuh, Paguron dan Pesantren. Seniman, budayawan, ilmuan, raja-raja nusantara terlahir dari 5 sistem pendidikan tersebut. Namun sejak kedatangan kolonial, kelima sistem pendidikan disebut dipandang sebagai sistem under dog

Mainset kemandirian harus dirubah kepada ketergantungan. Lihat saja Presiden Sukarno, Presiden Abdurrahman Wachid, dan Presiden Jokowi,  siapa saja pemimpin RI yang berusaha menciptakan kemandirian bangsa, ancamannnya harus digulingkan. Mengapa demikian, mainset  masyarakat Indonesia, semua pihak yang berkuasa haruslah kaki tangan asing. Termasuk didalamnya struktur kesejarahan RI harus mengikuti Belanda. Contoh kecil, produk nasional seperti rokok kretek, akan dihabisi oleh British American Tobacco (BAT).  

Menuju ke-100 tahun bisa saja Indonesia bubar, kalau tidak sejak dini menegakkan kemandirian dengan tradisi, local genius, budaya dan perekonomian. Tak cukup rongrongan ekonomi, politik dan pendidikan. Ideologi NKRI Pancasila pun juga harus dijegal, liat saja Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) segampang itu mereka jual jargon khilafah Islamiyah akhirnya pemerintah memutuskan untuk dibubarkan.

2. Wadah apa yang digunakan untuk penyadaran kembali nilai-nilai tradisional menjadi gerakan nasional?

Ya, selama ini kita godog  (Jw) semangat tersebut lewat Lesbumi (Lembaga Seniman Kebudayaan Muslimin Indonesia) dibawah organisasi Nahdlatul Ulama. Setelah difahami bersama, getok tular nilai tradisi dan budaya lokal tersebut dikembangkan melalui kegiatan tahlilan, pengajian dari surau ke surau, masjid ke masjid. Saya memulai disini lembaga pendidikan, Kami memulai dari kelas satu Sekolah Dasar, mereka para murid sudah dikenalkan aksara arab pegon (arab melayu), kemudian mereka mempelajari huruf hanacaraka yang ditujukan untuk mempelajari naskah-naskah kuno nusantara.  

Dari organisasi Lesbumi sendiri, Kami bergerak sejak 2015 kemarin. Tim Lesbumi telah berusaha mengumpulkan naskah-naskah kuno mulai dari akhir Majapahit sampai dengan kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Naskah kuno tersebut, kini telah dibentuk dengan pola digitalisasi, dengan cara memofo digital mulai dari bahan daun lontar sampai kulit. Sampai sekarang baru terkumpul 6528 naskah dari Jawa, Cirebon dan naskah dari luar Jawa.  Target secara keseluruhan ada 14 ribu naskah kuno seluruh Nusantara. 

Dengan naskah tersebut, Kita akan buktikan kepada publik, bahwa nilai-nilai kebudayaan dan tradisi berkembang lewat karya-karya sastra sansekerta termasuk memperkuat eksistensi Walisongo yang telah mengajarkan sendi-sendi toleransi di Nusantara.  Adapun naskah dari luar Jawa sedang dalam proses pengumpulan, karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.

Dari penelitian naskah tersebut, kita mengerti konsep perubahan sosial yang terjadi di Indonesia dari pra Islam, sampai Islam dan semenjak kolonial masuk. Bagaimana Walisongo mengubah konteks struktur sosial masyarakat jaman Majapahit dari kawula (budak), namun semenjak era Walisongo kata kawula dirubah menjadi masyarakat. Berasal dari kata musyarokah yang artinya orang sederajat yang bekerjasama. 

Konteks kata masyarakat tidak lagi membedakan warga dari suku, agama dan bangsa, yang penting mereka mau bekerjasama secara adil dan bijaksana. Konteks masyarakat seperti ini tidak didapatkan dinegara lain, karena Walisongo sendiri telah menghilangkan status perbudakan, suku bangsa menjadi masyarakat nusantara yang satu. Langkah ini dilakukan secara pelan, persuasif demi keutuhan NKRI. Dilakukan secara pelan-pelan karena mengembalikan tekstual pendukung kebudayaan cukup rumit, secara basis harus kuat. Tidak seperti di Belanda atau Inggris yang naskah kebudayaan semuanya terkumpul di perpustakaan.

3. Jika suatu saat negara ini harus digadang berpindah kiblat ke Islam Kanan?

NKRI sudah jelas dan final. Coba pelajari pembentukan NKRI dilakukan oleh anak-anak bangsa di berbagai suku. Mereka datang ke Jakarta untuk menghadiri sidang BPUPKI dari bulan April sampai Juli, kemudian bulan Agusuts diganti dengan PPKI kemudian diganti Panitia 9 semuanya elemen bangsa terlibat. Selama kurun waktu tersebut, sidang dilakukan secara gratis, tidak ada biaya yang dikeluarkan negara. Keinginan kuat tersebut didorong kebulatan tekad para anak bangsa menjadi negara yang mempunyai tujuan yang berdaulat dan adil dan makmur. Sama sekali tidak ada campur tangan kolonial. Kita cukup percaya kok dengan mereka, tujuan mereka membuat negara adalah untuk melindungi, menyejahterakan seluruh elemen anak bangsa untuk mendirikan negara yang berdaulat adil dan makmur. Dan itu jelas.

Kalau seandainya, konsep negara baru, seperti konsep idiologi Hizbuttahrir Indonesia (HTI), ya tentu Kita anak-anak bangsa harus berfikir 1000 kali.  Siapa dibalik HTI itu, yang dikembangkan oleh Taqiyuddin An-Nabhani yang mengusung konsep Khilafah Islamiyah. Dia dikenal sebagai orang Arab (Yordania) namun berwarga negara Israel. Kecurigaan kami semakin besar, dengan adanya tawaran konsep khilafah di Indonesia. Konsep Taqiyuddin sendiri ditolak di negara Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi, karena hanya angan-angan (ilusi) negara Islam dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jangan-jangan yang terjadi nanti konsep khilafah yang diajukan malah Yahudi.

4. Menurut telaah Kami atas buku Bapak Atlas Walisongo, keberadaan khilafah yang ada di Jawa dan nusantara itu seperti apa?

Khilafah di nusantara dulu mengadopsi Raja dan Perdana Menteri. Iya memang, perwakilan khilafah  di nusantara sudah ada sejak runtuhnya Majapahit.  Nusantara telah menggunakan konsep khilafah sejak zaman Demak berdiri dan tidak ada hubungan dengan kekhalifahan Turki saat itu. Pengesahan khalifah pertama Raden Patah adalah Sunan Giri seorang ulama yang masih punya darah Majapahit. Begitu juga kerajaan Pajang juga dilakukan Sunan Giri.  

Khilafah di Indonesia saat itu yang mengangkat ulama. Jadi di Jawa tidak ada tradisi kekuasaan tunggal seperti model HTI tawarkan, dan hal ini itu sejak ada jaman Majapahit. Seorang Maharaja itu kepala negara, yang membawahi hakim, jaksa, panitera pengacara dan seluruh perangkat hukum dibawah raja sebagai kepala negara. Sedangkan kepala pemerintahan itu dipegang oleh Mahapatih (perdana menteri) yang membawahi para menteri. Jadi seorang patih-lah yang menjalankan kekuasaan. Saat kekuasaan Maharaja Hayam Wuruk dengan Patih Gajahmada, ya terlihat jelas, lebih luas cakupan kekuasaaan Gajahmada dalam menjalankan pemerintahan. Dengan cara seperti ini transparansi lebih terbuka. Yang luarbiasa sekarang ini ya Indonesia , Presiden sebagai Kepala Negara juga menjabat Kepala Pemerintahan, bahkan panglima militer sekaligus. 

5. Lantas, Negara ini butuh formula seperti apa?

Masyarakat dengan gelar-gelar akademis sekarang tidak punya karya besar untuk bangsa.  Tidak seperti zaman dulu di Nusantara. Yang ada mereka orang bertitel lulusan akademis ini hanya menghabiskan uang negara. LIPI sendiri juga sedikit sekali sumbangsihnya ke bangsa. Fakta sebaliknya, di jaman kuno, ketika anak bangsa masih mengenal padepokan, asrama, dukuh dan  paguron, orang  Indonesia telah membuat 3 jenis kalender yakni surya sengkala (berdasar garis edar matahari), candra sengkala (berdasar garis edar bulan) dan pranatamangsa (berdasar putaran musim). Tiga jenis kalender ini sudah dibuat sejak abad pertama masehi, sejak jaman legenda Aji-Saka. Coba bandingkan dengan lulusan akademik sekarang, apa yang dihasilkan.

Pada abad-abad awal Indonesia telah membuat aksara sendiri dengan meminjam aksara Pallawa.  Kemudian berkembang aksara dewanegari. Tapi abad ke-7 masehi sudah menciptakan aksara Jawa. Di Sriwijaya telah diciptkan aksara Kawi. Berkembang kemudian aksara Batak, Bugis, Bali, mereka suku-suku menciptakan aksara sendiri. 

Awal Abad ke-7, Indonesia telah mempunyai Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang diciptakan oleh Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga disebut Kalingga dharmasastra. Dijaman awal Singosari oleh Wisnuwardana dikembangkan menjadi kitab Purwadigama Dharmasastra. Awal Kertanegara di jaman Majapahit dikembangkan kitab Kutara Manawa Dharmasastra dan dilanjutkan oleh Gajah Mada menjadi 275 pasal dengan 19 Bab. Ini yang tidak dihasilkan oleh kaum sarjana dan intelektual, dan ini menjadi problem bangsa seharusnya.

6. Apa yang terjadi dengan SDM kita saat ini, sehingga tidak produktif menghasilkan karya?

Kita masih terlalu silau dengan temuan ilmuan luar negeri. Temuan-temuan dalam naskah nusantara hanya disebut local genius. Sedangkan temuan orang luar negeri kita sebut sebagai karya universal. Jadi dari selama mentalitas kita sendiri yang jauh dari pendahulu bangsa kita. Mentalitas kita masih inlander, tidak terasa kalau pendahulu bangsa kita bagian dari superior.  Bagaimana pemerintah mencita-citakan 2045 sebagai tahun emas? Jika dengan SDM sekarang ini. Harusnya dibangun mentalitas superior dan meninggalkan mentalitas inlander, agar kemandirian bangsa terbangun.

7. Dari rasa pesimis itu kapan kita akan bangkit?

Ya pelan-pelan, semua berjalan sesuai progres, karena semua itu pasti ada perubahan, karena kita tidak tahu sampai dimana prosesnya. Yang jelas Lesbumi sekarang ini mulai mempersiapkan orang-orang, bagaimana kita berkeyakinan diri sebagai orang Indonesia. Salah satu pelecutnya ya kelahiran Islam Nusantara di Muktamar NU ke-33, di Jombang, Jatim. Posisi kita dengan globalisasai ini telah terancam habis. Untuk menangkalnya, Gerakan Lesbumi lebih sistematis ke bawah dengan jalur budaya, pendidikan. Sekalipun kita dicela banyak orang, tidak masalah. Karena kita menanam nilai sendiri dan terhormat di negeri sendiri. 

8. Setelah Naskah kuno itu terkumpul 14 ribu, langkah apa kemudian?

Naskah tersebut akan menjadi pijakan kita, menunjukkan bahwa NKRI bukan bangsa yang terbelakang. Kita punya ilmu palalindung, ilmu tentang membaca gempa, ini bukti bahwa nenek moyang kita merupakan bangsa superior. Nanti prinsip-prinsip imperior akan kita tentang, dengan data manuskrip kuno tersebut.  

Sikap inferior itu terjadi di kalangan kita, seorang gelar akademik matematika membahas borobudur sebagai warisan Sulaiman. Raja Majapahit dikaitkan dengan keturunan Rasul. Langkah ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi ada upaya peradaban-peradaban tinggi di Nusantara dianggap sebagai peradaban asing dan bukan karya orang Indonesia. Hal ini itu patut ditentang dan itu konyol, seorang doktoral tapi mentalitasnya inferior. Bagaimana itu bisa dipertanggungjawabkan? Kan jadi butuh sebuah konferensi internasional jika Candi-candi di Indonesia diklaim sebagai karya orang Arab, karena konteksnya ilmu pengetahuan diluar latar agama.

9. Jawaban dari problematika sekarang ini bagaimana arah pendidikan nasional kita?

Dulu, Tahun 1936 Dokter Sutomo dan Ki Hajar Dewantara telah membuat rancangan, dimana pendidikan nasional kita akan mengambil sistem pesantren. Disitulah, kolonial Belanda ketakutan jika kurikulum pesantren menjadi dasar pendidikan Nasional. Selama ini pergerakan nasional digerakkan oleh orang pesantren. Untuk menandingi keinginan kedua tokoh pendidikan tersebut, Belanda menerbitkan utusannya yakni Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Dengan tulisannya, STA menganggap pesantren sebagai sistem pendidikan terbelakang dan menolak segala macam modernitas. Tulisan STA, kemudian di-counter oleh dr. Sutomo dan Ki Hajar Dewantara yang melibatkan Armin Pane dkk. Peristiwa ini dikenal dengan nama Polemik Kebudayaan yang berlangsung dari 1936-1938.

Hasilnya apa, pendidikan sekarang ini tidak memproses seseorang menjadi enterpreneur, namun menjadi buruh-buruh di pabrikan dan perusahaan. Sementara lulusan pesantren akan menciptakan lapangan kerja sendiri dan tidak tergantung atas lapangan pekerjaan. Sayangnya 1938, dr Sutomo meninggal mendadak, menyebabkan pertarungan ini dimenangkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Akhirnya kiblat pendidikan yang dipilih untuk nasional adalah sistem sekolah. Jumlah sarjana, master dan doktoral berlimpah, namun apa karya untuk bangsa ini, minim sekali. Nah klimaksnya, ketika masuk ke institusi negara, mereka melakukan korupsi.

Contoh real sekarang ini bisa dibuktikan. Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) memiliki jurusan teknik perkapalan. Sayangnya tidak mempunyai galangan kapal, apalagi memproduksi kapal. Akhirnya lulusan dari mereka mengandalkan pekerjaan di PT PAL Surabaya. Ini faktanya. Coba dibandingkan dengan pesantren Sunan Drajat di Paciran Lamongan, Jawa Timur. Lembaga pendidikan ini mempunyai galangan kapal dan memproduksi kapal besi berbobot 1000-4000 ton, yang pasarnya di Korea dan Taiwan. Kemandirian pesantren ini  tidak diberi bantuan dari pemerintah. 

10. Konklusinya seperti apa?

Kedepan, Kita  dengan Lesbumi PBNU, betul-betul mempersiapkan generasi yang punya kepercayaan diri yang tinggi, sebagai bangsa merdeka yang mewarisi tradisi warisan leluhur kita. Bukan lagi meneruskan tradisi sebagai bangsa Inlander yang selalu mengagungkan bangsa kulit putih. Coba liat trend nama anak-anak muda Indonesia tahun 2000 keatas, sudah mulai menanggalkan nama-nama Jawa, yang banyak telah meninggalkan nama lokal.  Ini tanda-tanda budaya Indonesia kita sudah terseret dari globalisasi.

Narasumber Raden Ngabehi Agus Sunyoto memiliki silsilah genetik ke Keraton Surakarta.

Narasumber Raden Ngabehi Agus Sunyoto memiliki silsilah genetik ke Keraton Surakarta.

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook