Tugas pasukan Uni Eropa bisa memperkuat pasukan kontraterorisme Irak, memfungsikan peradilan dan memberikan nasihat keamanan kepada Pemerintah Irak.

Berita tersebarnya keruntuhan ibu kota basis pertahanan ISIS di Raqqa, Suriah, dan kosongnya kekuatan ISIS di Mosul membuat Uni Eropa segera mengambil tindakan strategis. Rencananya, Uni Eropa akan mengirimkan pasukan dalam rangka misi perdamaian, sekaligus menstabilkan Irak.

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa akan menggelar diskusi pertama hari ini di Luxembourg dan mempertimbangkan menggelar Tim Penasihat dan Pembantu Reformasi Sektor Keamanan Uni Eropa, guna melatih para petugas keamanan Irak.

Sebelumnya para diplomat Uni Eropa telah menyampaikan bahwa Irak secara resmi meminta bantuan Uni Eropa.

Langkah ini adalah sinyal bagi berakhirnya keengganan Prancis dan Jerman untuk melibatkan diri dalam perang di Timur Tengah, setelah kedua negara menolak invasi Amerika Serikat pada tahun 2003.

Kedua negara itu secara terpisah terlibat dalam perang melawan militan ISIS di Suriah dan Irak. Namun, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini telah mendukung peran lebih luas Uni Eropa.

"Kami tidak boleh membiarkan kekosongan (kekuasaan) terjadi. Kami dan yang lainnya siap masuk. Hanya soal bagaimana kami melakukannya nanti harus diputuskan," tutur seorang diplomat Uni Eropa.

Tugas pasukan Uni Eropa bisa memperkuat pasukan kontraterorisme Irak, memfungsikan peradilan dan memberikan nasihat keamanan kepada Pemerintah Irak, selain dari itu paling utamanya melatih para polisi Irak. 

REAKSI ANDA?

Komentar Facebook