Berita kematian Johannes Marliem, sangat mengejutkan. Kasus Novel Baswedan yang belum usai, ditambah kasus kematian sosok orang yang terlibat transaksi dan pelaksanaan sistem E-KTP. Seolah menjadi pukulan mental warga Indonesia. Siapa saja saksi penting dalam sebuah kasus, akan menjadi mangsa para kaum pesakitan.

Chat Marliem dengan wartawan Tempo diposting di Twitter milik Marliem pada 24 Juli 2017

Chat Marliem dengan wartawan Tempo diposting di Twitter milik Marliem pada 24 Juli 2017

Johannes Marliem, salah satu saksi korupsi E-KTP yang menurut media Tempo, telah memiliki alat bukti berupa rekaman percakapan sebesar 500 gigabyte, dinyatakan meninggal pada 10 Agustus 2017 kemarin. Johannes Marliem meninggal pada pukul 5 sore waktu di kediamannya di Los Angeles. Berita kematian tersebut disiarkan secara live oleh tv lokal seperti CBS, ABC, CNBC dalam slot breaking news. Dugaan sementara kematian pria yang diidentifikasi sebagai Johannes Marliem, 32 tahun dengan luka tembak di kepala, dengan hasil sementara bahwa dirinya menghabisi nyawanya sendiri. 

Di sisi pihak KPK, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menganggap Marliem dinyatakan bukan sebagai saksi kunci, karena belum pernah dihadirkan sama sekali dalam acara persidangan kasus E-KTP.  Sejauh pelusuran penulis di sosial media, nama Marliem mencuat setelah media Tempo berhasil menggali informasi dari Marliem. Hasil wawancara antara Marliem dengan Tempo secara pribadi diunggah oleh Marliem dalam twitter pribadinya per 24 Juli 2017 kemarin. 

Ada banyak perdebatan, mengapa sosok Marliem justru lebih didengar masyarakat di luar jalur persidangan. Sendangkan KPK sendiri belum pernah memperkaitkan nama Marliem dari beberapa proses persidangan. Fakta tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi warga seperti penulis sendiri dan Anda sebagai pembaca. Johannes Marliem dikenal publik sebagai Direktur Biomorf Lone LLC, di USA, sebagai perusahaan yang penyedia layanan teknologi biometrik. Menurut catatan tempo, Namanya telah disebut sebagai penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) bermerk L-1, untuk proyek kartu penduduk elektronik. 



REAKSI ANDA?

Komentar Facebook