Hasil hitung cepat oleh beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa pasangan calon gubernur dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful, kalah dalam putaran kedua. Banyak yang mempertanyakan karena sebelumnya, tingkat kepuasan masyarakat DKI Jakarta terhadap kinerjanya mencapai 70 persen. Namun apa yang membuatnya kalah dalam Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua?

Berikut adalah uraian yang disampaikan oleh Analis Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun.

1. Mesin Politik Tidak Aktif

Mesin Politik Tidak Aktif

Mesin politik yang mendukung Ahok dan Djarot dinilai tidak aktif. Padahal, ada enam partai politik yang mengusungnya dan ini artinya jauh lebih banyak dengan partai politik yang mendukung Anies-Sandi. Namun sayang, kuantitas partai politik pengusung tidak meningkatkan efektivitas mesin politik dalam bekerja.

Mesin politik yang dipakai Ahok-Djarot juga sudah terbaca oleh lawan karena memakai pola konvensional. Pembagian sembako, baksos, dan lain-lain dianggap sudah tidak efektif lagi untuk mengambil hati rakyat.



REAKSI ANDA?

Komentar Facebook